News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Ada Apa Dibalik Kritikan Aktif Bupati Batang Hari ke Sekda Bakhtiar

Ada Apa Dibalik Kritikan Aktif Bupati Batang Hari ke Sekda Bakhtiar

TAJUK THE JAMBI TIMES




SEBELUM  kita ulas TEMA diatas dengan judul "Ada Apa Dibalik Kritikan Aktif Bupati Batang Hari ke Sekda Bakhtiar". 

Terlebih dahulu kita harus obyektif untuk menilai suatu informasi sehingga kita tidak gagal faham dalam mengulas persoalan secara berkelompok bukan individu.

Agar yang keluar dari dialog tersebut dapat menghasilkan informasi yang sehat dan cerdas bagi kehidupan masyarakat khususnya di Kabupaten Batang Hari yang tidak lama lagi akan mulai memanas dengan tragedi PILKADA.

Apalagi informasi itu ada keterkaitannya dengan POLITIK. Selagi belum dilantiknya calon pemenang pemilihan bupati maka belum akan redah admosfer kehidupan pollitik Kabupaten Batang Hari.

Memang benar bahwa Kabupaten Batang Hari Provinsi Jambi  dalam kurun waktu satu tahun kedepan akan  mengelar pesta demokrasi yang  katanya JURDIL.

Semoga saja benar JUJUR dan ADIL itu karena kita masih percaya dan yakin bahwa Mahkamah Konstitusi (MK)  Lembaga hukum  tertinggi negara  menjunjung tinggi asas keadilan meskipun rakyat masih menaruh pesimis dengan MK khususnya dalam masalah sengketa Pemilihan umum Bupati dan Wakil bupati untuk periode 2021-2024.

Tahun politik ini jadi pekerjaan serius  dari tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat lainya untuk menciptakan suasana yang  mencerdaskan untuk kehidupan masyarakat dan jangan membawa kegaduhan ditengah masyarakat hanya untuk kepentingan golongan ataupun pribadi .

Pernah menyaksikan acara TIMELINE  yang dibawakan oleh Denny Siregar  salah satu pengiat media sosial  di Facebook.Kita ulas sedikit soal itu sebagai tolak ukur kita.

Pro kontra  NETIZEN yang menilai acara Denny Siregar ini adalah titipan atau bayaran oleh seseorang.

Justru jika kita lihat secara obyektif tenyata banyak manfaatnya dari pada munaratnya acara  TIMELINE itu.

Pengakuan Denny Siregar di acara khusus yang ditayangkan oleh salah satu TV Nasional itu merupakan bentuk pengakuan bahwa dirinya (Denny Siregar)  itu tidak menerima upah dan murni keinginan pribadi.

Namun masih saja menuduh bahwa Denny Siregar disogok tapi apakah bisa di buktikan hal itu. Sekarang dasarnya mindset kita lagi yang menentukan benar atau tidaknya pembuktian yang disampaikan itu.

Terkadang masyarakat sensitif menerima hal-hal yang dianggap tabu dan belum bisa dibuktikan secara data dan fakta sehingga hal ini jadi bias khususnya bagi masyarakat awam.

Begitu juga dengan Ade Armando pengiat media sosial Facebook ini lebih estrim lagi mengkritik  isu-isu SARA sehingga Ade Armando sempat dilaporkan ke pihak berwajib.

Padahal dua PENGIAT mensos  ini adalah sosok yang berani mengungkapkan fakta sebenarnya.

Dan bukan sedikit yang shere dan like, komentar beraroma sadis dan simpatik terhadap dua sosok pengiat media sosial yang VIRAL ini.

Fakta dan data diatas ini adalah cermin kita untuk menilai suka dan tidak suka  oleh seseorang dan itu sangat wajar sekali dan itulah namanya demokrasi  di INDONESIA.

Begitu juga dengan kondisi di kabupaten Batang Hari ini saat masuknya tahun Politik.

Banyak kritikan pedas, tuduhan tanpa bukti dan data kepada para KANDIDAT  Pemilihan Bupati 2021-2024  Kabupaten Batang Hari yang menyebar luas di masyarakat.

Saya sedikit mengukip bahasa  yang disampaikan dari perkataan Sekda Bakhtiar.

"Janganlah menyebarkan informasi yang tidak benar ke masyarakat Kabupaten Batang Hari" nanti akan menjadi permusuhan diantara mereka" 

"Sampaikanlah informasi yang mencerdaskan bagi  kehidupan masyarakat"

Padahal Sekda Bakhtiar ini terus dikritik oleh atasnya sendiri yaitu Bupati Sahirsyah melalui media.

Kritikan bupati kepada Sekda Baktiar seperti  contoh 'jarang masuk kantor' , 'kinerja Sekda menurun' dan banyak yang lain lagi.

Kenapa tidak ada kritikan positif seperti prestasi pemerintah memperoleh pelbagai PENGHARGAAN atas kinerja bupati yang tidak bisa ditutupi bahwa  Sekda ikut serta maju mundurnya Pemerintah Kabupaten Batang Hari 

Pertanyannya: Ada apa kritikan negatif  yang aktif  kepada Sekda Bakhtiar ini terus digaungkan.

Kita gunakan istilah TIMELINE bahasanya Deni Siregar 'yaitu MARKIBONG'  artinya "Mari Kita Bongkar".

Jika kita pakai teori pemikiran terbalik dengan banyak kritikan Baktiar itu ada nilai yang terselubung yang begitu besar dan berharga.

Pertama: Sosok Sekda Baktiar ini terus dikenal ke pelosok dusun tanpa mengeluarkan uang banyak biarpun masalah negatif sekalipun.

Kedua: Masyarakat desa di Kabupaten Batang Hari ini sudah terbilang cerdas untuk menilai informasi mana yang HOAX mana yang RIIL.

Kenapa begitu kentalnya kritikan  Bupati Kabupaten Batang Hari Sahirsyah kepada sosok bawahanya yaitu Sekda  Bakhtiar.

Ada PEPATAH  yang mengatakan ". Menepuk Air Didulang, Terpecik Muka Sendiri".

Maksudnya begini, Seorang Sekda itu adalah bawahan dan pesuruh dan harus menerima tekanan dari seorang Bupati ditingkat Kabupaten misalkan, baik buruknya SEKDA itu cermin dari KINERJA  nya seorang BUPATI. 

Aneh kan jika BUPATI menyebar terus virus negatif kepada SEKDA nya sendiri.

Justru Pemerintah Kabupaten Batang Hari melalui pikiran Sekda Baktiar telah mendapatkan beberapa  PENGHARGAAN  seperti Sistem Akuntabilitas Kinerja  Instansi  Pemerintah (SAKIP) Predikat BB dari Kemenpan RB RI pada 10 Februari 2020.

Jika di analisa dan  dilihat dari realitanya bahwa Sekda Bakhtiar ini  sebenarnya LAWAN  berat dari istrinya Sahirsyah yaitu: Yunita  Asmara  di PILBUP 2020 .

Bahwa sosok Bakhtiar adalah wajah baru dalam kancah perpolitikan di Kabupaten  Batang Hari yang memiliki moto "SERENTAK BAK REGAM" ini.

Masyarakat dari ujung Selat ujung Bahar, ujung Bathin hingga  ujung Rengas, sosok BAKHTIAR  yang dikenal lembut dan santun ini jadi sorotan masyarakat  di Kabupaten Batang Hari.

Apalagi Baktiar ahli dalam kepemerintahan mungkin tidak diragukan lagi jika menjadi orang nomor satu di BATANG HARI ini.

Coba bandingkan dengan Yunita Asmara, istri Bupati Sahirsyah pernah tersandung kasus dugaan korupsi makan minum BKMT 2008-2010, soal dana sebesar 4,9 milyar dan 790 juta untuk organisasi Yunita Asmara Sahirsyah pada 10 Mei 2017. Dan Yunita Asmara  akhirnya divonis bebas oleh PENGADILAN dan sudah terekspos di MEDIA.

Kabar yang mengejutkan lagi pada tahun 2018 lalu, heboh soal tandatangan palsu Bupati Sahirsyah.

Kasus ini sudah berjalan dua tahun namun sepertinya hilang ditelan bumi.

Padahal pihak Polres  Batang Hari terus melakukan pendalaman soal laporan Bupati Sahirsyah soal pemalsuan tandatangan untuk menerbitkan Izin perkebunan.

Ada tiga surat izin yang diduga ditandatangani oleh Bupati Sahirsyah yang PALSU itu, misalnya.

1 Keputusan Bupati Batang Hari nomor 14 Tahun 2011 Tentang  Pemberian Izin Usaha Perkebunan  untuk Budidaya (IUP-B) kepada PT.Mutu Perkasa Sawit. 

2. Keputusan Bupati Batang Hari Nomor 16 Tahun 2011 Tentang Pemberian Izin Usaha Perkebunan untuk Budidaya (IUP-B) kepada koperasi suku anak dalam sanak mandiri dan,

3. Keputusan Bupati Batang Hari Nomor 15 Tahun 2011 Tentang  Pemberian Izin Usaha Perkebunan untuk Budidaya (IUP-B) kepada PT.Jammer Tulen.

Baru- baru ini, tepatnya 16 Januari  2020 salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat melayangkan surat perihal mohon penjelasan soal kasus pemalsuan tandatangan palsu  Bupati Sahirsyah.

Permintaan ini akan terus berlanjut kedalam PERSIDANGAN di Komisi Informasi Publik Provinsi Jambi jika tidak ada tanggapan dan etika baik dari pihak BUPATI.

Mungkin akan ada lagi isu yang lebih hangat lagi yang akan dilontarkan kepada lawan politik demi DINASTY Batang Hari.

Seperti Sunda Ampire, King of the king  atau Keraton agung sejagat  yang penuh dengan  hayalan tingkat tinggi dan akankah terwujud dan mejelma menjadi  Kerajaan politik di istana kabupaten tercinta ini.

Mungkinkah itu akan terjadi, jawabannya sejauh mana MASYARAKAT bisa diuji dan menerima atau menolak asupan  berupa menu rayuan yang menjanjikan kesejahteraan  yang tidak akan pernah terwujud.

Zainul Abidin
















Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment