Terpopuler

Back to Top

Video

KPAI Apresiasi Kepsek Riau,Tangani Temuan 56 Siswa Sayat Tangan

Pasang Iklan Gratis
Pasang Iklan Gratis Di iklan the jambi times http://iklan.thejambitimes.com

Video Jambi Terkini
Lihat Video Berita seputar Jambi
http://tv.thejambitimes.com

Pasang Iklan Disini
Pasang Iklan Disini Hub. 0813 6687 8833
http://www.thejambitimes.com

Tunjukan.com
Portal Berita Tunjukan
http://www.tunjukan.com

Ads by Iklan The Jambi Times

JAKARTA  | Viralnya Berita 56 siswa SMP di Riau yang nekat menyayat tangannya seusai mengkonsumsi minuman kemasan merek Torpedo  telah membuat heboh, karena mengejutkan kita semua. Minuman seharga Rp 1000 itu disebut mengandung zat benzo, semacam zat anastesi (bius) yang biasa digunakan kedokteran. Berita yang dimuat media online itu menyebar dengan cepat melalui media sosial. 

Kepala Sekolah SMP Negeri 18, Pekanbaru Lily Deswita membenarkan bahwa beberapa siswa kedapatan menyayat tangannya. Namun mengenai penyebab mereka menyayat tangannya, Lily membantah karena dipicu minuman merek Torpedo. Menurut Lily, para siswa itu ketahuan menyayat tangannya karena mengikuti video viral tentang penyayatan tangan untuk melampiaskan sakit hati atas masalah yang dialaminya.

Kebanyakan siswa mengaku menggores tangan dengan benda tajam hanya karena mengikuti video viral yang dibagikan lewat aplikasi pertemanan WhatsApp dan Instagram. Tujuannya melampiaskan kekesalan dan kemarahan atas masalah yang mereka alami, dengan demikian mereka mengaku merasa tenang. Karakter anak yang dinilai masih labil dan mudah meniru disebut menjadi alasan mereka menirukan video yang dilihat di media sosial saat punya masalah.

Kaus di sekolah ini bermula pada Jumat, 7 September 2018 lalu saat seorang guru melihat ada bekas sayatan di tangan kiri siswanya di kelas VIII. Guru itu melihat keganjilan lantaran tidak hanya satu siswa, tetapi banyak siswa yang memiliki luka sayatan di tangan. Pada hari itu juga Kepala Sekolah memerintahkan dilakukan razia dengan memeriksa  semua handphone siswa.

Temuan itu membuat sejumlah guru khawatir adanya indikasi narkoba. Pada Senin, 10 September 2018, pihak sekolah mengundang BNN Kota Pekanbaru untuk sosialisasi saat upacara, sekaligus  menyampaikan temuan 56 anak menggores tanggannya dengan benda tajam.

Pada Rabu, 14 September, sebanyak 56 anak tersebut di-assesment oleh petugas BNN Pekanbaru. Hasilnya, tidak ada anak terindikasi narkoba, Hasilnya semua negative. Namun ada satu siswa yang yang dinyatakan positif urin-nya mengandung benzo, Kepada petugas BNN, anak tersebut mengaku baru saja mengkonsumsi minuman kemasan merek Torpedo lebih  dari satu. Sementara 55 anak yang lain sama sekali tidak meminum minuman Torpedo tersebut. 

Atas permintaan BNNK Pekan Baru, Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Kota Pekanbaru kemudian melakukan uji laboratorium dari sampel minuman Torpedo tersebut untuk membuktikan apakah minuman tersebut menengandung Benzodiazepim atau tidak. 

Dalam surat edaran BBPOM Pekanbaru yang diterbitkan tanggal 28/9/2018 untuk BNNK setempat yang isinya berbunyi, sehubungan surat Kepala BNNK Pekanbaru Nomor BIBOI/lX/Ka/cm00/2018/BNNK-PKU tanggal 21 September 2018 perihal Pormohonan uji laboratorium. Disimpulkan produk Torpedo aneka rasa buah masih terdaftar di Badan POM dengan Nomor izin edar 50432644341 dan masih berlaku. Adpun hasil uji laboratorium sampel minuman suplemen kesehatan tersebut dengan nomor batch 43001201709 dan 14901320H12, hasilnya negative golongan Benzodiazepim ( Alpnzolam, Bromazepam, Chloddazepoxide, Clobazam, Clonazepam, Diazepam, Estuahm, Lorazepam dan Numepam).

KPAI mengapresiasi guru dan Kepala SMPN 18 Kota Pekanbaru yang sudah memiliki kepekaan dan menindaklanjuti hasil temuan dari puluhan siswanya yang melakukan sayat tangan.  Sidak handphone dan laporan ke BNNK Pekanbaru oleh pihak sekolah adalah langkah tepat sehingga penyebab siswa menyayat tangan menjadi terang, bahwa hal itu dilakukan karena pengaruh video sayat tangan dengan benda tajam yang dilihat dari Instagram dan WhatsApp. Adapun tujuannya adalah untuk melampiaskan sakit hati atas masalah yang dialaminya.

Sekolah jangan berhenti sampai disini, sekolah harus segera berkoordinasi dengan para orangtua ke 56 siswa tersebut, agar dapat mengetahui permasalahan yang dihadapi anak-anak tersebut serta mencari stratagi yang tepat membantu anak-anak tersebut menyelesaikan masalahnya. Para wali kelas dan guru BP/BK di sekolah dapat diberdayakan untuk membantu ke-56 anak tersebut menghadapi masalahnya dan berupaya menyelesaikannya, bukan dengan lari dari masalah dan kemudian melakukan tindakan yang justru berbahaya bagi keselamatannya. 

Kasus ini harus menjadi kewaspadaan bagi para orangtua yang memiliki anak-anak usia puber, mereka harus didampingi oleh orangtuanya dalam tumbuh kembangnya, karena diusia tersebut anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan ingin mencoba banyak hal.  Orangtua harus memiliki kepekaan terhadap perubahan sikap dan perilaku anak-anaknya.

Orangtua perlu meningkatkan control terhadap anak-anaknya dan meningkatkan kualitas pertemanan dengan anak-anaknya sehingga anak selalu terbuka menceritakan setiap masalah yang dihadapinya dan orangtua selalu bersedia membimbing anak menyelesaikan persoalan yang dihadapinya hingga anak bisa mandiri. 

Fakta bahwa 56 siswa  melakukan  sayat tangan dan mempercayai hal itu tidak akan menimbulkan rasa sakit sebagaimana isi video yang disaksikannya bahkan dapat melampiaskan kemarahan yang dirasakannya, maka fakta ini perlu ditindaklanjuti oleh instansi terkait, seperti : Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Dinas PPPA dan P2TP2A Kota Pekan Baru. Harus ada langkah konkrit untuk melakukan rehabilitasi psikologis dan rehabilitasi kesehatan terhadap 56 siswa tersebut dan harus ada sosialisasi untuk mencegah dan memastikan bahwa siswa lainnya untuk tidak akan melakukan tindakan sayat tangan ketika sedang menghadapi masalah. 

KPAI akan bersurat kepada pemerintah kota Pekanbaru untuk mendorong Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan bersinergi melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah lainnya sebagai upaya mencegah anak lain di berbagai sekolah meniru adegan yang membahayakan di video tersebut dengan menyayat tangan. 

KPAI akan bersurat kepada Kemeninfo untuk memblokir video-video sejenis yang mengandung adegan berbahaya bagi anak-anak yang menyaksikannya, apalagi 70% perilaku anak adalah meniru apa yang dia lihat di lingkungannya dan di media sosialnya. (Retno)