Terpopuler

Back to Top

Video

Suku Tajik VS Suku Uighur di China, Manakah Yang Paling Cantik?

Pasang Iklan Gratis
Pasang Iklan Gratis Di iklan the jambi times http://iklan.thejambitimes.com

Video Jambi Terkini
Lihat Video Berita seputar Jambi
http://tv.thejambitimes.com

Pasang Iklan Disini
Pasang Iklan Disini Hub. 0813 6687 8833
http://www.thejambitimes.com

Tunjukan.com
Portal Berita Tunjukan
http://www.tunjukan.com

Ads by Iklan The Jambi Times
 
(suku Tajik/klik lihat foto maksimal)
THE JAMBI TIMES - Bicara soal China, mungkin hal yang kita kenal adalah barang produksinya hingga kekuatan militernya yang luar biasa. Itu bukan hal yang aneh mengingat negara ini juga menganut paham komunis di mana ketahanan dan kesejahteraan buruh lebih diutamakan. Namun siapa sangka di negara itu juga ada beberapa suku bangsa yang sangat jarang kita kenal, semisal Uighur yang beragama Islam.

Baca Juga : 10 Wanita Cantik Asal Suku Uigur Yang Jadi Artis China
Baca Juga : Suku Islam Uyghur Mayoritas di Huni Wanita Cantik

Uighur tidak sendiri, ternyata masih ada suku lain di China yang tak kalah menarik perhatian. Ya, itulah suku Tajik, etnis yang mayoritas pemeluk Islam yang dikenal dengan kecantikan wajahnya.
Kepopuleran Uighur sendiri pasti kalah dengan suku asal Tashkurgan, Xinjiang ini. Tidak percaya? Simak ulasan berikut.

(Suku Tajik/klik lihat foto maksimal)
Tidak  kalah dengan Uighur, wanita dari suku ini dikenal cantik-cantik

Kita mungkin selama ini mengenal Uighur sebagai salah satu suku muslim di daratan China yang banyak terdapat wanita cantiknya. Namun siapa sangka kalau selain suku itu, ada pula Tajik, sebuah etnis yang para wanitanya juga tidak kalah cantik. Uniknya, para perempuan di suku ini, sama sekali tidak nampak seperti orang Asia yang identik dengan mata sipit.

Ya, kalau dilihat dari bentuk wajahnya, mereka lebih mirip keturunan Turki, Iran atau daerah Timur Tengah. Apalagi kalau melihat bentuk hidung mancung dan mata cokelatnya, semakin lunturlah kesan orientalnya. Namun demikian, mereka juga bisa menggunakan bahasa Mandarin, meskipun tidak digunakan untuk kegiatan sehari-hari.

Kebudayaan menarik, sering bikin pengunjung betah di sana

Ternyata suku Tajik dikenal piawai dalam menari dan menyanyi, terutama para wanitanya. Mungkin itu pula yang menjadikan daya tarik para perempuan di sana. Usut punya usut, keahlian tersebut juga dipengaruhi oleh kebiasaan dan adat yang ada di sana, yang sampai saat ini masih dijaga.
Misalnya, bahasa Sarikol, yang sampai sekarang jadi bahasa sehari-hari yang digunakan suku ini selain Mandarin. Selain itu pakaian adat yang sering digunakan oleh suku ini juga lebih mirip tibet dan timur tengah. Ternyata jika ditarik garis ke belakang, nenek moyang dari Tajik sendiri merupakan orang-orang Persia kuno.

(klik Lihat Foto Maksimal)
Sebuah daerah yang sangat damai dan jarang adanya konflik

Meskipun terletak di daerah perbatasan, namun kehidupan para suku Tajik ini ternyata sangat jauh dari konflik. Hampir tiap pagi para tentaranya berpatroli dan bersliweran di kota untuk mengamankan daerah perbatasan.

Kehidupan para kaum muslim di sana pun juga terbilang rukun, meskipun kedua aliran besar, Sunni dan Syiah sama-sama ada di sana, tidak ada satu pun konflik karena perbedaan yang terjadi. Selain itu, karena merupakan etnis minoritas di negeri tirai bambu, masyarakat suku ini juga diberi kebebasan untuk beribadah sesuai dengan yang dianut.

(Klik Lihat Foto Maksimal)
Tidak hanya di China, beberapa suku Tajik juga tersebar di negara lainnya

Ternyata China bukan satu-satunya tempat menetap dari suku keturunan bangsa Persia yang satu ini. Pasalnya di beberapa negara lainnya juga ditemui orang-orang Tajik. Semisal Afganistan, Tajikistan, dan selatan Uzbeskistan. Sebagian kecil menetap di Iran dan Pakistan.

Persebaran ini dinilai bukan hal yang aneh mengingat keberadaan mereka yang sangat dekat dengan perbatasan, sehingga bisa saja sebagian orangnya memilih pindah ke dari China dan memilih negara-negara sebelah. Meskipun begitu, mereka yang memilih menetap , kini dianggap sebagai suku asli dan salah satu warisan serta keunikan budaya di negeri tirai bambu.

Siapa sangka tidak hanya Indonesia yang memiliki keanekaragaman suku, di China pun demikian. Uniknya meskipun mereka menjadi minoritas di sana, namun tidak lupa menjalankan ajaran agamanya. Bahkan di daerah Tashkurgan, Xinjiang ini dikenal damai dan aman sentosa.

Suku Uighur, yang memang terkenal dengan deretan wanita cantiknya. Suku Uighur mendiami negeri tirai bambu China, namun wajah mereka tak mirip orang china pada umumnya. Mereka berkulit putih namun ada sedikit corak Arab-nya.

(suku Tajik/Klik Lihat Foto Maksimal)
Bahkan beberapa orang bahkan terlihat seperti blasteran Asia Timur dan Juga Eropa. Ada lagi yang membuat kagum, yaitu mata mereka yang coklat agak kehijauan. Ada juga wanita Uighur yang terlahir dengan rambut pirang. Suku ini bagaikan tempat perkumpulan orang-orang yang cantik.

Mereka tinggal wilayah Xinjiang, China. Terletak pada lokasi daerah paling utara dan barat negeri China. Xinjiang sendiri artinya adalah perbatasan baru. Di Xinjiang suku Uighur menjadi mayoritas dan hidup berdampingan dengan suku-suku lain, misalnya Kazakh dan Han.

Xinjiang sempat jadi perhatian dunia mengenai kebebasan beragama. Suku Uighur yang mendiami wilayah tersebut mayoritas pemeluk agama islam dan perlakuan pemerintah China ternyata sangat buruk terhadap hal tersebut. Sungguh amat disayangkan.

Melihat dari awal sejarah, nenek moyang Uighur merupakan pecahan dari negara muslim yang akhirnya mendiami wilayah Xinjiang. Suku Uighur sangat erat kaitannya dengan bangsa Turki. Secara fisik, suku Uighur sangat mirip dengan bangsa Turki.

Ada lebih dari 330 ribu orang suku Tajik di Tiongkok dan mereka terutama tersebar di daerah otonom Tashkuergan, terletak di barat daya Kota Urgyr di Daerah Otonomi Xinjiang.

Suku Tajik memiliki bahasa sendiri. Mereka membuat luas penggunaan bahasa Urgyr dan mereka percaya dalam Islam sebagai jalan hidup. Mereka melibatkan diri dalam meningkatkan saham ekonomi dan pertanian mereka juga. Mereka hidup setengah menetap dan setengah nomaden (berpindah-pindah).

Orang-orang Tajik memiliki karakter ulet dan tak terbatas. Elang, hewan cerminan pahlawan dalam cerita-cerita lama Tajik. Para gembala menikmati sejenis seruling disebut “Nayi” yang terbuat dari tulang sayap elang. Mereka menganggap simulasi “elang melonjak” sebagai postur paling baik untuk tarian budaya mereka.

Senjata pedang besar di ujungnya, menjadi favorit suku Tajik di pertempuran masa silam. Gaya pedang ini juga dipakai suku Gurkha di Nepal karena pengembaraan bangsa Yaji, sebagai penghubung kawasan Gunung Tian Shan (Kazakhstan) ke Afghanistan, Kashmir (India), hingga Nepal.

Suku Tajik di Tiongkok terkenal untuk menjadi penunggang kuda yang baik. Para atlet berkuda, seperti memegang domba dan “menggantung poki (polo)” adalah olahraga favorit dan hiburan massa, sebuah potensi wisata Tiongkok.

Suku minoritas di Tiongkok yang mayoritas beragama Islam dan dekat dengan suku Tajik, bernama suku Kirgiz. Kedua suku ini pada zaman Dinasti Qing, dianggap penjaga kawasan barat.

Bahasa Kirgiz termasuk dalam pembagian bahasa Turki dari keluarga bahasa Altai. Suku ini meminjam banyak kata dari bahasa Han setelah tahun 1950-an, dan alfabet baru kemudian merancang, membuang tulisan Arab lama dan mengadopsi alfabet Romawi berbasis skrip. Bahasa Uygur dan Kazak, juga digunakan suku Kirgiz di beberapa daerah.

Nenek moyang suku Kirgiz tinggal di hulu Sungai Yenisey. Pada abad pertengahan 6 Masehi, suku Kirgiz berada di bawah kekuasaan Khanate (istilah kerajaan di bawah Pan Mongolia Raya) Turki.

Setelah Dinasti Tang (618-907 Masehi) mengalahkan Khanate Turki, akhirnya suku Kirgiz di abad ke-7 resmi terbentuk, wilayahnya di dalam wilayah Tiongkok (Dinasti Tang) bagian barat. Sementara suku besar Turki, terusir dari penguasa Tang hingga mengembara ke semenanjung Anatolia yang jadi kekuasaan Romawi Byzantium.

Dari 7 sampai abad ke-10, Kirgiz telah sangat sering komunikasi dengan suku Han. Instrumen musik mereka, drum, sheng (pipa buluh), bili (alat bambu dengan corong buluh), dan panling (sekelompok lonceng melekat pada tamborin), menunjukkan Kirgiz telah mencapai tingkat yang cukup tinggi budaya.

Menurut prasasti Yenisey kuno pada loh batu, setelah Kirgiz mengembangkan kelas masyarakat, ada polarisasi tajam dan antagonisme kelas.

Selama Dinasti Liao (916-1279), kawasan Kirgiz dicatat sebagai “Xiajias” atau “Xiajiaz”. Pemerintah Liao mendirikan sebuah kantor perwakilan di daerah Xiajias. Pada abad 12-an ketika Jenghis Khan naik takhta, Xiajias tercatat dalam buku-buku sejarah sebagai suku “Han Qirjis” atau “Jilijis”, hidup di lembah Sungai Yenisey. Itu menunjukkan bahwa suku Kirgiz lebih condong ke Han daripada suku Turki sebagai induknya yang berasal dari lembah Mongolia.

Dinasti Yuan (1206-1368) ke Dinasti Ming (1368-1644), suku Jilijis meskipun sebagian besar masih hidup dengan peternakan nomaden, beremigrasi dari Yenisey atas ke Pegunungan Tian Shan (Kazakhstan) dan menjadi salah satu kawasan paling padat dari rumpun suku Turki. Setelah abad ke-15, meskipun masih ada perbedaan suku, suku Jilijis di Pegunungan Tian Shan telah menjadi sebuah kesatuan.

Banyak kemudian suku Kirgiz pindah ke Pegunungan Hindukush (Afghanistan) dan Karakorum (ibu kota Mongol kuno). Pada saat ini, beberapa Kirgiz meninggalkan tanah air mereka dan pindah ke timur laut Tiongkok.

Pada 1758 dan 1759, suku-suku Sayak dan Sarbagex Timur dan suku Edegena Barat, dan 13 suku lainnya—total 200.000—memasuki wilayah Issyk Kul, menyerang perbatasan Dinasti Qing dan meminta Beijing melepaskan tanah itu.

Suku Kirgiz memainkan peran utama dengan keberanian mereka, membela Tiongkok melawan agresi asing. Sekitar 200 ribu angkatan bersenjata dilawan sekitar 50 ribu pasukan suku Kirgiz atau Jilijis, demi tetap berada di kedaulatan Tiongkok, saat itu Dinasti Ming. Sejarah ini membuat Ketua Besar Mao Jedong, pentadbir pembebasan nasional di bawah bendera Republik Rakyat Tiongkok, menaruh hormat atas keberanian para pahlawan suku Kirgiz atas Keagungan Tiongkok Raya.

Kirgiz dan Kazaks membantu Pemerintah Qing dalam upayanya untuk menghancurkan pemberontakan oleh bangsawan Dzungaria dan Khawaja Senior dan Junior.

Mereka menolak serangan oleh pemberontak Yakub Beg pada tahun 1864, dan ketika pasukan Qing datang ke selatan Xinjiang untuk melawan tentara Yakub Beg, mereka memberi bantuan.
Namun, dengan dalih “keamanan perbatasan”, perintah rezim Kuomintang (Partai Nasionalis pimpinan Chiang Kai Sek) pada tahun 1944 menutup padang rumput, merampas para gembala suku Kirgiz mata pencarian mereka. Akibatnya, Revolusi Puli pecah di tempat yang sekarang Daerah Otonomi Taxkorgan Tajik dan bagian daerah Akto, dan membentuk pemerintahan revolusioner.

Revolusi ini, bersama dengan pemberontakan di Sungai Ili, Tacheng, dan Altay, mengguncang aturan Kuomintang di Xinjiang. Lebih dari 7.000 orang ambil bagian dalam Revolusi Puli, mayoritas suku Kirgiz, Tajik, dan Uygurs.

Keganasan Kuomintang membuat ketika suku yang bertempur di Revolusi Puli di Xinjiang, memproklamasikan diri ikut Partai Komunis pimpinan Mao Tse Tung (Mao Je Dong), Uni Soviet (Rusia) mendukung persenjataannya. Perang itu juga menjadikan semua suku-suku di kawasan utara Tiongkok mendukung Partai Komunis.
Melihat seluruh suku-suku di kawasan utara Tiongkok memproklamasikan anggota Partai Komunis, membuat Ma Je Dong mengajak para pengikutnya di Tiongkok Selatan menuju ke Tiongkok Utara, dan ibu kota Tiongkok, Beijing berada di kawasan utara.

Perjalanan panjang (long march) Mao Jedong ini yang berhasil mencapai utara, akhirnya mendapat pengikut besar dan balik menghantam Kuomintang yang akhirnya ditendang ke Pulau Formosa (Taiwan).

Dikarenakan suku Tajik dan Kirgiz selain di dalam negeri Tiongkok, juga memiliki tanah yang terbentuk dari bekas negara Uni Soviet, Tiongkok membina hubungan baik dengan negara Tajikistan dan Kyrgyzstan bernama kerja sama Forum Shanghai.

Sejak tahun 1992, dari berbagai sumber bahwa tanah Tiongkok selalu menjadi daerah penampung pengungsi, ketika suku-suku di Asia Tengah saling bertempur rebutan lahan ekonomi atau disebut kerusuhan sosial. Kasus terakhir di tahun 2010, kerusuhan antara suku Usbek dan Kazak di beberapa kota-kota di negara Uzbekistan dan Kazakhstan, Tiongkok selalu menerima pengungsi dan menjadi tempat yang damai bagi semua suku di Asia Tengah yang bertikai. (tl)