News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

PILGUB Jambi: Taktik dan Strategi Kekuatan, Calon harus Cerdas Adu Program di Era COVID-19

PILGUB Jambi: Taktik dan Strategi Kekuatan, Calon harus Cerdas Adu Program di Era COVID-19

Oleh: Zainul Abidin

SIKAP akhir PAN untuk menentukan pilihan Calon Gubernur dan Calon wakil Gubernur Provinsi Jambi untuk masa jabatan 2020-2024 sudah berakhir.

Pada HUT PAN yang ke-22 di DPW PAN Jambi. Ketua umum Zulkifli Hasan dan ketua DPW PAN, dalam hitungan jam akhirnya, sikap PAN memberikan kepercayaan ke pasangan Haris-Sani.

PAN ingin memberikan kejutan di HUT nya agar PAN tetap solit biarpun tidak ada Kader murni dari PAN yang maju PILGUB.

Dari informasi elit PAN, Haris  sejak awal sudah intens lobi-lobi kepetinggi Partai Amanat Nasional (PAN). Dan Haris juga dianggap piawai  untuk melakukan pendekatan politik.

Apalagi pedamping Haris yang memiliki basis massa dari wilayah timur yaitu Kabupaten Tanjab Barat, Tanjab Timur, Muaro Jambi dan Kota. Selain putra asal Tanjab Barat, Sani juga dikenal sebagai tokoh agama dari organisasi islam terbesar di Indonesia yaitu Nahtlatul Ulama (NU). 

Namun massa NU tidak sebesar pulau Jawa. Itu berarti jangan terlalu banyak berharap soal dukungan massa karena suara NU tidak signifikan di Provinsi Jambi.

Haris menurut elit PAN mendaftar menjadi anggota PAN baru satu tahun ini sejak Haris maju menjadi Calon Gubernur.

Inilah historis nya PAN memilih  pasangan Haris-Sani. Apalagi basis Jawa di tiap kabupaten diklaim oleh tokoh PAN bahwasanya condong ke Cawagub SANI.

PILGUB Provinsi Jambi tahun ini sepertinya  lebih seru  dari periode sebelumnya dan  bisa dikatakan penuh semangat, biarpun  pemilihan Gubenur Provinsi Jambi periode 2020-2024 hanya seumur 36 bulan saja.

Dari analisa media online The Jambi Times, lumbung suara PAN di Kabupaten Tanjung Jabung Timur khususnya akan  menjadi sorotan serius dan pukulan berat bagi Romi Hariyanto sang bupati aktif  jika Haris-Sani  di Kabupaten Tanjab Timur KALAH. 

Masyarakat Kabupaten Tanjung Jabung Timur sepertinya masih lekat dengan sosok almarhum Nurdin Hamzah, Zulkifli Nurdin dan putranya Zumi Zola dan juga keturunannya.

Diprediksi suara signifikan di kabupaten Tanjung Jabung Timur akan diraih ke pasangan Ce Endra-Ratu.

RATU biarpun bukan putri daerah tapi sebagai istri mantan gubernur  dua periode alharhum Zulkifli Nurdin ini akan tetap menjadi perhitungan sangat serius dan tidak bisa dilihat sebelah mata khususnya di Tanjung Jabung Timur .

PAN berharap Kabupaten Sarolangun khususnya etnis Jawa akan berlabuh ke Cawagub SANI.

Massa keturunan Jawa di Kabupaten Sarolangun cukup besar tapi Ce Endra juga harus pandai memainkan  peran warga keturunan etnis.

Keturunan SUNDA di Sarolangun juga terbilang besar, jika Ce Endra tidak bisa meramu maka akan sia-sia suaranya dikandang sendiri,  mereka etnis SUNDA akan melihat sosok teteh Ratu Munawaroh yang memiliki darah Sunda. Ini peluang yang harus dibabat habis.

Suku SUNDA juga akan jor-joran memenangkan teteh Ratu Munawaroh sebagai putri asal SUNDA menjadi wakil gubernur.

Dilihat dari lumbung suara di tiap kabupaten, massa  etnis JAWA dan SUNDA di tiap daerah cukup berimbang. Sehingga suara Sani dan Ratu akan bersaing ketat.

PILGUB tahun ini momen yang sakral bagi masyarakat Tanjab Timur  untuk memberikan suaranya, apakah pilih PAN atau figur?

Figur Ratu lebih menonjol yang berlipat-lipat dari Ce Endra, Haris, Fachrori Umar, Sani dan Safril Nursal di Tanjab Timur.

Sosok Ratu juga mewakili kaum mudi milenial dan ibu-ibu yang tidak terikat  dengan janji pada cagub dan cawagub lainya.

Keluarga besar Nurdin Hamzah dan sehabatnya yang masih setia akan all out dan turun gunung memenangkan RATU sebagai Wakil Gubernur.

Apalagi RATU mendapat 100 persen dukungan dari kelurga besar Nurdin Hamzah untuk maju sebagai kontestan PILGUB khususnya dari Sum Indra dan Azrin Nurdin.

Sedangkan di wilayah barat, Ce Endra jangan anggap sepele manuver Haris dan Fachroi Umar yang  begitu intens.

Namun pasangan Ce Endra-Ratu mendapat nilai lebih jika Dedengkot Golkar ikut turun habis-habisan  mensukseskan pasangan CERAH ini.

Fasha  diprediksi tidak bakal  ikut maju di PILGUB tahun ini  karena tidak mendapat dukungan partai, selain NASDEM tapi entahlah jika Fasha memaksakan ikut sebagai calon independen.

Jika iya ikut maka di ibaratkan seperti mesin tua yang dipaksa bekerja 24 jam nonstop dan  akibatnya  SICK EROR.

Jika Fasha solit mendukung Ce Endra maka suara kota Jambi akan melebihi suara Haris-Sani ataupun Fachrori Umar.

Sebaliknya jika Fasha tidak mendukung serius salah satu pasangan maka suara pendukung  Fasha akan pecah menjadi tiga bahkan mungkin  tidak. Inilah yang dikatakan massa mengambang.

Ini menjadi pertaruhan membara antara  pendukung  militan SANI dan pendukung militan RATU untuk suara di kota Jambi.

Begitu juga di Kabupaten Tebo. Sukandar yang sudah dikecewakan oleh Golkar karena gagal ikut kontestan pemilihan PILGUB, apakah ikut mendukung habis ke pasangan Ce Endra-Ratu atau memilih jadi penonton.

Hal ini sama nasibnya dengan Syafrial yang di tinggalkan oleh PDIP begitu juga Fasha yang kader Golkar.

Syafrial Bupati Kabupaten Tanjung Jabung Barat ini tinggal memilih, apakah konsentrasi mendukung calon gubernur atau fokus mengurus istrinya yang ikut mencalonkan sebagai kepala daerah di Kabupaten Tanjab Barat.

Jika Safrial  Bupati aktif Kabupaten Tanjung Jabung Barat mendukung Ce Endra-Ratu maka kekuatan massa akan bertambah besar khususnya di Kabupaten Tanjab Barat.

Sedangkan sosok Sukandar dan istrinya Saniatul Lativah akan memberikan magnet suara yang signifikan jika suami istri ini ikut turun gunung memenangkan Ce Endra -Ratu khususnya  pada etnis Jawa.

Jika iya maka etnis Jawa di tiap kabupaten akan terbelah dua, pilih SANI secara langsung sebagai cawagub  atau Sukandar dan istri sebagai tim pemenangan Ce Endra-Ratu.

Bagaimana dengan Hasan Basri Agus  yang dikenal dengan julukan HBA,  apakah tetap mendukung Al Haris yang sudah dianggap anak sendiri sedangkan Ce Endra adalah sahabat kental yang sama-sama berasal dari satu daerah dan juga sama-sama memimpin Kabupaten Sarolangun secara bersama-sama, ikatan batin ini juga sudah terbangun cukup lama.

Kedewasaan mindsite berpolitik Ce Endra dan HBA ini sudah teruji  dan tetap terbangun sehat tanpa hujatan negatif .apalagi dengan sosok Fachori Umar (FU) sepertinya sama dan tidak ada  lawan dan kawan yang asing di hadapan HBA. 

Sehingga HBA tidak akan mengeluarkan sentimen negatif terhadap Ce Endra maupun Fachrori Umar.

Disini di uji sikap dewasa HBA  dalam  berpolitik bagaimana membangun image untuk bersikap dan beretika dalam PILGUB tahun ini yang mana HBA akan turun habis-habisan membela Haris-Sani.

Haris yang usianya dibawah Ce Endra dan Fachrori dan masih terbilang super aktif  dan agresif ketimbang lawanya yang sudah mendekati senja. 

Tapi ingat lawan Haris itu senioritas, terkadang senioritas bisa dianggap penting dan juga tidak penting sama sekali.

Untuk Syafril Nursal cawagub dari pasangan Fachrori Umar ini sepertinya 90 persen masyarakatnya akan memilihnya dengan catatan harus extra keras untuk mempromosikan diri karena sosok Safrial Nursal masih asing khususnya di masyarakat Kerinci.

PAN juga menklaim kekuatan massa di Kabupaten Kerinci ada sosok Andirozal sebagai kader PAN akan ikut mendukung suksesnya pasangan Haris dan Sani.

Irjen Pol Drs H. Syafril Nursal  SH ,MH , Kapolda Sulawesi Tengah (Sulteng) dalam waktu dekat ini dirinya akan pensiun dari kepolisian , sosok baru di dunia politik Provinsi Jambi  ini membawa arah baru bagi pendamping Fachrori Umar yang memiliki latar belakang seorang militer.

Dari sisi pemodalan Fachrori Umar bisa diandalkan apalagi  akan dibantu oleh keluarga besar istrinya,  sebagai  PETAHANA strategi dan taktik sudah tercipta  yang sebenarnya  sangat mudah di mainkan, asal saja lihai melakukan terobosan simpatik ke masyarakat di tiap kabupaten/kota.

Fachrori Umar memiliki karakter politiknya yang polos dan memilih banyak diam dan tidak neko-neko, dan ini jangan dianggap sepele strategi ala FU ini.

Fachrori juga sempat dibully  di media sosial oleh  pendukung lawan politiknya karena belum memiliki satupun perahu yang jelas, toh pada akhirnya  Fachrori Umar diusung Partai Gerindra, Demokrat dan Hanura.

Tiga calon ini harus sangat kritis untuk memantau mesin politiknya bekerja secara extra keras, sejauh mana tim para pendukungnya melakukan adu taktik dan strategi juga pandai mengemas untuk memberikan kepercayaan pada masyarakat, jika tidak sinkron dan tidak tersistem maka jangan harap bisa MENANG. 

Apalagi tidak peka membaca situasi dan kondisi. Mesin partai yang UTAMA menentukan kalah dan menang bukanya hanya dijadikan utama dalam persyaratan di KPU.

Program-program dan janji politik sangat dinanti masyarakat Provinsi Jambi, asal jangan janji yang membodohi masyarakat. 

Realitas dan berpikir rasional  harus mensesuaikan dengan kondisi zaman era COVID-19.

Di zaman era baru COVID-19 ini, para calon harus melakukan program yang sesuai dengan kondisi saat ini. Karena zaman ini sudah mengalami pengeseran penataan di semua aspek kehidupan.

Karena masyarakat ingin ada perubahan untuk memberikan stabilitas ekonomi, sosial dan budaya di zaman COVID-19  dan ini tetap dinomor satukan, seperti mengatasi penganguran, peluang kerja, dan dapat mengembalikan sistem yang sudah tertatap dan tidak ada lagi batasan  atau pemotongan anggaran dalam mendapatkan kelangsungan hidup masyarakat  di Provinsi Jambi.

Penulis adalah Pendiri Media online The Jambi Times, Pendiri organisasi pers Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Persiapan kota Jambi, mantan jurnalis Global TV/ RCTI dan MNC Group.





















Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment