Transmigrasi Pertama di Provinsi Jambi ada di Kecamatan Rantau Rasau
The Jambi Times, MUARASABAK | Masyarakat Transmigran bisa dibilang merupakan pahlawan, sebab mereka merupakan utusan pemerintah yang berupaya membangun daerah terpencil dan terisolasi. Keberadaan masyarakat ini telah membawa perubahan tersendiri di suatu daerah yang sebelumnya belum terlalu terjamah.
Salah satu kawasan transmigrasi tertua di Provinsi Jambi ternyata berada wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim). Hal ini tentunya menjadi salah satu keunikan tersendiri jika ditelusuri lebih dalam terkait kedatangan mereka di Bumi Sepucuk Nipah Serumpun Nibung ini.
Keberadaan masyarakat transmigrasi tertua di Provinsi Jambi yang berada di Kabupaten Tanjabtim ini berlokasi di Desa Rantau Rasau I, Kecamatan Rantau Rasau.
Kepala Desa Rantau Rasau I, Deni Permana, saat diwawancarai ( 04/03/2020 ) mengatakan masyarakat transmigrasi ini dulunya tiba di wilayah Tanjabtim ini berjumlah 50 orang pada bulan Agustus tahun 1967.
"Pada tahun 1967, 50 orang masyarakat transmigrasi dari beberapa Kabupaten di Jawa Tengah datang ke Tanjabtim. Mereka merupakan transmigrasi di era Presiden Sukarno. Dari 50 orang tersebut, 1 di antara adalah kepala proyek," ujarnya.
Deni Permana selaku Kades juga menjelaskan, dirinya merupakan keturunan dari salah satu masyarakat transmigrasi yang berjumlah 50 orang yang datang ke Kabupaten Tanjabtim.
"Kakek saya salah satu rombongan transmigrasi yang berjumlah 50 orang itu. Awal mula meraka datang kesini, Kabupaten ini masih bernama Tanjung Jabung dan Desa ini masih bernama Desa Simpang yang masih bergabung dengan Kecamatan Nipah Panjang," jelasnya.
Dari 50 orang masyarakat transmigran yang datang ke Tanjabtim pada tahun 1967, saat ini yang masih tersisa hanya 5 orang dengan usia rata - rata sekitar 80-an.
Sementara itu, mbah Yatim, salah satu dari 5 orang masyarakat transmigran yang masih hidup mengungkapkan, pertama kali dirinya beserta istri memijakkan kaki di salah satu wilayah di Rantau Rasau yang kini bernama Desa Rantau Rasau I, kondisinya masih sepi atau bisa dikatakan masih hutan rimba.
"Dulu pertama kali kami datang kesini masih hutan, pohon besar - besar, binatang liar masih banyak, malah dulu sering ada harimau yang melintas daerah sini. Saya datang ke sini bersama perempuan saya (istrinya)," ungkapnya dengan logat bahasa indonesia yang masih bercampur bahasa jawa.
Selain itu, dirinya juga mengatakan, banyak suka duka yang di dapat dari perjalanan hidupnya yang merantau dari tanah kelahirannya di pulau jawa hingga sampai ke pulau sumatra ini.
"Kami dikirim ke daerah ini menggunakan kapal air. Sekitar satu bulan perjalanan baru bisa sampai di sini," paparnya. ( MRD )