Analisis Îmãn (15)
|
Atha’na: Kenyataan Iman
THE JAMBI TIMES - Atha’na adalah kelanjutan dari sami’na. Sami’na yang terdiri dari rattil
dan shalat, dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan penguasaan ilmu
(Al-Qurãn). Bisa juga dikatakan bahwa sami’na adalah proses ‘aqdun
bil-qalbi, yaitu penanaman ilmu ke dalam jiwa (pikiran dan perasaan).
Maka dengan demikian atha’na adalah: pertama, proses iqrarun bil-lisan,
atau ‘pelisanan’ yaitu menyatakan secara verbal kebenaran ilmu, dan
menjadikan ilmu sebagai faktor dominan dalam kegiatan bertutur-kata. Kedua,
proses ‘amalun bil-arkan, yaitu menjadikan ilmu sebagai faktor dominan
dalam perilaku fisik. Dengan kata lain, sami’na adalah suatu kegiatan
yang bertujuan menjadikan ilmu sebagai “ruh” yang bukan saja
menggerakkan tapi juga membuat gerakan fisik terarah.
Jelasnya, sami’na adalah suatu proses “peleburan” Al-Qurãn
Al-Qurãn ke dalam kesadaran; sedangkan atha’na adalah proses
pemunculan Al-Qurãn ke dalam kenyataan, sehingga segala konsep Al-Qurãn yang ghaib
(abstrak) itu menjadi syahadah (nyata). Pelaksanaan kedua proses ini
sangat membutuhkan “keinginan keras” atau “kerinduan yang memuncak” yanag
dalam Surat al-Baqarah ayat 165, disebut dengan istilah asyaddu hubban.
Keadaan inilah yang selanjutnya melahirkan tekad untuk melakukan jihad.
Jihad adalah istilah khas Islam untuk menyebut totalitas perjuangan dalam
rangka mewujudkan Al-Qurãn ke dalam kenyataan. Istilah totalitas (totality)
menegaskan bahwa perjuangan ini mencakup segala segi kehidupan. Karena itulah
Nabi pun membagi jihad menjadi jihadul-akbar (perjuangan besar) dan jihadul-ashghar
(perjuangan kecil). Gambarannya adalah seperti diungkapkan dalam sejarah;
yaitu bahwa ketika pulang dari Perang Badar yang luar biasa dahsyat itu, nabi
mengatakan, “kita baru saja pulang dari jihadul-ashghar untuk
(selanjutnya menghadapi) jihadul-akbar.” Perkataan nabi ini
mengejutkan para sahabat, sehingga mereka meminta Nabi untuk menjelaskan apa
yang dimaksud dengan jihad akbar itu. Nabi mengatakan bahwa yang dimaksudkan
adalah jihadu-nafs. Orang biasa menerjemahkannya sebagai “perang melawan
nafsu”. Di sini kita menyebutnya sebagaui “totalitas perjuangan dalam rangka
memerangi nafsu”.
Jihadul-Akbar
“Perang melawan nafsu’ adalah perang permanen (permanent) atau
perang abadi, atau perang yang tidak berkesudahan, kekcuali bila para pelakunya
sudah mati.
Seperti disebutkan di atas, latar belakang sejarah kelahiran hadits
tentang jihad itu adalah peristiwa Perang Badr, yaitu perang pertama dalam
sejarah Nabi, yang di dalamnya Nabi memimpin 313 orang tentara dengan
dukungan dua ekor unta, untuk melawan dedengkot Quraisy bernama Abu Sufyan
yang memimpin 1000 orang tentara dengan dukungan 700 ekor unta (sebagai
kendaraan logistik). Perang ini berakhir dengan kemenangan di pihak Nabi.
Sebanyak 70 orang tentara Quraisy tewas, dan sekitar 70 orang pula yang
menjadi tawanan. Sedangkan di pihak Nabi hanya 14 orang gugur.
Perang Badr adalah perang defensif (bersifat bertahan, membela diri)
pertama yang terjadi pada tahun 624 M atau sekitar dua tahun setekah Hijrah.
Perang ini terjadi di Lembah Badr, di luar wilayah kota Yatsrib (Madinah).
Bila digambarkan secara kiasan, ketika Perang Badr ini Nabi dan pasukannya
keluar dari “rumah” (Madinah) untuk menyongsong sekawanan perampok yang
hendak menghancurkan rumah mereka. Setelah para perampok dikalahkan, Nabi
bersama tentaranya kembali ke rumah. Tapi justru di dalam rumah itulah Nabi
mengatakan bahwa mereka semua harus bersiap-siap untuk menghadapi jihadul-akbar.
Bila dipahami secara simbolik (perlambang), Perang Badr adalah perang
dalam rangka mengusir musuh-musuh eksternal (dari luar). Inilah yang oleh
Nabi disebut sebagai jihadul-ashghar. Sedangkan sekembali dari Badr,
yang harus dihadapi adalah musuh-musuh internal (yang ada di dalam). Inilah jihadul-akbar.
Dalam skala kecil jihad akbar atau jihadul-nafs adalah perang
dalam rangka menaklukkan nafsu-nafsu pribadi. Dalam skala yang lebih luas,
cakupannya adalah penataan rumahtangga mu’min. Termasuk ke dalam pengertian
rumahtangga ini adalah negara, karena pada hakikatnya sebuah negara adalah
sebuah rumahtangga dalam skala besar.
Jadi jihad akbar ini secara keseluruhan meliputi proses “Qur’ãnisasi
perilaku individu dan masyarakat”. Dalam bahasa populer, jihad akbar adalah
proses yang meliputi segala usaha untuk membuat individu dan masyarakat
berdisiplin hukum (law enforcement). Masyarakat yang sadar hukum
adalah masyarakat yang tidak membutuhkan polisi untuk memaksa mereka mematuhi
peraturan. Mereka juga tidak membutuhkan pemimpin yang berwujud manusia,
karena pemimpin mereka yang sebenarnya adalah hukum itu sendiri. Para petugas
hukum hanya amenjadi lambang, atau ibarat pelumas untuk menjaga agar
kesadaran hukum itu tidak aus atau berkarat. Dengan kata lain, jihad akbar
adalah perjuangan untuk membuat Al-Qurãn menjadi imam; baik dalam setiap
individu maupun dalam masyarakat, dan terutama dalam masyarakat; karena
biasanya individu menjadi cenderung baik atau jahat karena pengaruh
masyarakat (lingkungan). Dalam konteks negara, jihad melawan nafsu itu justru
harus dimulai (dipimpin) kepala negara dan seluruh jajarannya, dengan
menjalankan hukum positif secara istiqamah (konsisten). Bila tidak, misalnya
dengan membiarkan masyarakat secara individual mengatur diri sendiri, maka
perang melawan nafsu itu hanya akan menjadi omong kosong.
Jihaadu
l-Ashghar.
Seperti disebutkan di atas, jihadul-ashghar (perang kecil) adalah
adalah perang untuk mengadapi musuh-musuh dari luar, atau jelasnya
musuh-musuh yang melakukan serangan secara fisik (lahiriah) dengan sasaran
yang bersifat fisik pula. Untuk itu dalam Surat al-Anfal ayat 60, 64-66,
Allah mengingatkan:
Bersiaplah selalu untuk menghadapi mereka (orang kafir) dengan mengerahkan
segala daya yang kalian miliki, misalnya tentara berkuda, (mudah-mudahan
dengan itu) kalian dapat membuat gentar musuh Allah yang (juga otomatis
menjadi) musuh kalian; serta (untuk menghadapi bahaya) yang lain. Kalian tak
akan tahu tentang mereka. (karena itu) Allah memberitahu tentang (kejahatan)
mewreka (yang selalu menginginkan kehancuran kalian). Sebenarnya, apa pun
yang kalian kerahkan demi menegakkan ajaran Allah, semua akan kembali menjadi
keuntungan kalian juga. Tegasnya, kalian sama sekali tidak dipermainkan (oleh
Allah).
Hai Nabi (Muhammad) begitu juga para mukmin yang menjadi pengikutmu,
cukuplah Allah (dengan ajaran-Nya sebagai pegangan hidup).
Hai
Nabi! Siagakanlah para mu’min untuk berperang. (sehingga, karena dipersiapkan
sedemikian rupa) seandainya di antara kalian hanya ada duapuluh orang yang
benar-benar tangguh, mereka akan mempu mengalahkan duaratus orang. Dan bila
di antara kalian ada seratus orang (yang tangguh), mereka pasti dapat
mengalahkan seribu orang kafir; karena orang-orang kafir itu tidak memahami
(tujuan perjuangan mereka).
Tapi
sekarang (saat menghadapi Perang Badr dan perang-perang di awal Hijrah),
Allah ringankan tugas kalian, karena menimbang keadaan kalian yang masih
lemah. Namun (meskipun demikian), bila diantara kalian ada seratus orang yang
tangguh, mereka pasti mempu mengalahkan duaratus orang. Dan bila di antara
kalian ada seribu (yanbg benar-benar tangguh), mereka pasti mampu mengalahkan
duaribu orang , karena mereka mematuhi konsep Allah. (Karena) sebenarnya
Allah (melalui Sunnah-Nya) berpihaka kepada orang-orang yang tangguh
(memmperjuangkan kebenaran)
|