Analisis Îmãn (14)
4.
Kemampuan Membaca
THE JAMBI TIMES - Sama dengan mendengar, membaca pun merupakan sarana input. Namun membaca
memerlukan konsentrasi lebih banyak daripada mendengar, terutama karena
ketika membaca telinga tetap bisa mendengar, dan mata bisa tergoda melihat
pemandangan yang lain. Karena itu, untuk dapat membaca dengan baik, ada
kalanya dibutuhkan situasi dan kondisi yang khusus. Surat Al-Muzzammil,
misalnya, secara tegas menyebutkan bahwa waktu yang sangat cocok untuk
membaca (Al-Qurãn) adalah malam hari. Karena waktu malam itu asyaddu
wath’an wa aqwamu qîlan (lebih potensial menancapkan dan mengokohkan
kata-kata – ilmu).
Membaca sebagai prosedur input tentu bukan hanya membunyikan huruf-huruf
tapi melakukan transfer (pemindahan) ilmu dari tulisan ke dalam otak.
Di satu segi, membaca berarti berusaha memahami isi suatu tulisan. Di
segi yang lain, membaca juga merupakan usaha untuk membentuk pandangan hidup.
Kegiatan membaca yang dilakukan untuk membentuk pandangan hidup otomatis akan
membuat seseorang bersikap selektif (teliti) dalam menentukan bacaan. Bila ia
ingin membentuk pandangan hidup dengan Al-Qurãn, maka Al-Qurãn akan menjadi
bacaan utamanya. Bacaan-bacaan yang lain hanya akan dibacanya bila akan
membantunya dalam meresapkan nilai-nilai Al-Qurãn.
Dengan demikian, kemampuan membaca pada hakikatnya adalah kemampuan
menyerap informasi dari bahan bacaan. Kemampuan ini tumbuh dengan bantuan
kemampuan berpikir, mendengar, dan melihat. Dengan kata lain, kemampuan
membaca adalah hasil dari suatu proses pendidikan dan latihan, bukan sesuatu
yang timbul secara mendadak. Bahkan kemampuan dan kemauan umat Islam untuk
membaca adalah salah satu hasil dari pergaulannya dengan Al-Qurãn. Bila umat
Islam sekarang kebanyakan malas membaca, mungkin karena mereka tidak akrab
dengan Al-Qurãn. Jelasnya, kegiatan membaca Al-Qurãn yang mereka lakukan baru
sampai pada taraf membaca secara ritual, bukan membaca untuk menyerap
informasi. Karena dengan membaca Al-Qurãn mereka tidak mendapat informasi,
maka selanjutnya, sadar atau tidak, mereka menganggap bahwa membaca adalah
pekerjaan yang tidak bermanfaat.
Kemampuan Menulis
Menulis sama dengan berbicara, yaitu sebagai sarana untuk melahirkan output
atau berproduksi. Namun menulis lebih membutuhkan pengerahan daya otak
daripada berbicara. Menulis bahkan boleh dikatakan sebagai sarana ujian
tertinggi untuk menilai kemampuan berpikir seseorang. Mungkin karena itulah
kebanyakan orang beranggapan bahwa menulis adalah pekerjaan istimewa,
sehingga tidak bisa dilakukan sembarang orang. Ini adalah pandangan
keliru. Karena, seperti halnya berpikir, mendengar, bicara, dan membaca,
menulis juga akan terasa gampang bila dibiasakan dengan sering melakukan
latihan.
Latihan menulis pun tidak perlu dengan membuat tulisan-tulisan semacam
artikel koran atau makalah ilmiah, tapi cukup diamulai dengan membuat
catatan-catatan kecil, yang berisi kutipan-kutipan, rumus-rumus, ringkasan
pelajaran, dan sebagainya. Namun dengan penekanan bahwa catatan-catatan itu
harus ditulis dengan bahasa yang jelas, teratur, dan tidak bertele-tele. Di
Indonesia rangsangan untuk menulis sangat kurang, sehingga para sarjana pun
kebanyakan tidak mempunyai kemampuan menulis yang memadai. Sedangkan di
negara-negara maju kegiatan menulis, terutama di sekolah-sekolah, sangat didorong,
sehingga para pelajarnya pun rata-rata mampu melahirkan gagasan dalam tulisan
yang cukup baik.
Kebiasaan menulis sangat diperlukan untuk mengasah otak, melatih bersikap
teliti, dan mengungkap gagasan dengan rujukan yang jelas.
Kemampuan menulis sangat menunjang proses da’wah, karena dengan tulisan
ilmu dilestarikan, dan disebarkan ke berbagai tempat. Berbagai kitab tafsir
yang umumnya tebal, buku-buku sejarah, pelajaran bahasa, dan lain-lain,
juga lahir karena para orang alim tempo dulu itu ternyata piawai dalam
menulis.
Yang terpenting, kemampuan berpikir, mendengar, bicara, membaca, dan
menulis, bagi si Mu’min semua harus berporos pada Al-Qurãn sehingga semua
kemampuan itu baginya hanyalah sekadar untuk membuktikan bahwa ia hamba Allah
yang butuh, yang patut diandalkan, yang dengan semua kemampuannya itu ia
tidak mungkin membuat ajaran Allah jadi kabur atau menyimpang.
Tata-Tertib Rattil
Rattil (studi Al-Qurãn) sebagai upaya yang dilakukan dalam rangka pembangunan
iman, adalah sebuah tawaran dari Allah yang di dalamnya terdapat nilai
(kemampuan) dan harga[1] (pengorbanan, resiko) untuk
mendapatkannya.
Nilai di sini berarti: rattil adalah sesuatu yang menjanjikan
sebuah hasil, yaitu pengetahuan obyektif tentang Al-Qurãn.
Sedangkan harga berarti: untuk mengenal Al-Qurãn secara obyektif
kita harus rela mengorbankan segala yang perlu, dan harus sanggup menghadapai
risiko apa pun yang menagancam.
Untuk jelasnya, marilah kita kaji Surat Al-Muzzammil dengan bantuan
terjemahan berikut ini. Tentu saja bukan terjemahan sempurna. Di dalamnya
pasti ada kekeliruan dan kesalahan. Namun anda tak akan pernah tahu pasti
bila tidak melakukan rattil.
Terjemahan Surat al-Muzzammil:
1.
Hai Muzzammil!
2.
Bangunlah di malam hari, kecuali
sedikit (boleh tidur).
3.
(Bangunlah!) setengah malam atau
kurangi dari setengahnya;
4.
atau lebihkan dari setengahnya. Lalu
kajilah Al-Qurãn setertib-tertibnya!
5.
pasti (bila pengkajian demikian
dilakukan) Kami akan resapkan suatu konsep/pedoman hidup yang mahaberbobot.
6.
Sungguh suasana malam benar-benar
sangat cocok untuk menancapkan, dalam arti lebih memantapkan tertanamnya
perkataan (ajaran).
7.
Sedangkan pada siang hari kamu
dibebani kewajiban untuk melakukan banyak kesibukan.
8.
maka (pada malam hari) tancapkan ilmu Rabb-mu
ke dalam kesadaran, sampai kamu berpegang kepadanyan sekuat-kuatnya.
9.
(Dialah, Allah) Penguasa Masyriq
dan Maghrib; hanya Dia yang layak dijadikan Ilah (penggerak
kehidupan). Maka jadikanlah Dia (ajarannya) sebagai satu satu-satunya
andalan.
10. Selanjutnya, teguh
bertahanlah menghadapi ocehan[2] mereka (para penentang Al-Qurãn),
serta ‘singkirkan’ mereka dengan cara sebaik-baiknya.
11. Selebihnya (yang di
luar kemampuan kalian), yaitu para Mukadzdzibin (perusak peradaban;
perusak ajaran Allah) yang menguasai sumber-sumber kekayaan (perekonomian),
serahkan saja kepadaK Biarkan mereka merasakan kesenangan semu sesaat.
12. Sebenarnya Kami
pastikan bagi mereka belenggu dan penjara kehidupan – karena pilihan demikian;
13. serta hidangan (buah
usaha) yang menyesakkan, yang menyebabkan penderitaan luar
***
14. Suatu masa (ada
giliran) bumi dan gunung-gunung berguncang, sehingga gunung-gunung pun rontok
(longsor) seperti seonggok pasir.[3]
15. Jelas sekali bahwa
kami mengutus kepada kalian seorang Rasul (Muhammad) sebagai figur nyata bagi
kalian; sebagaimana dulu pernah Kami utus seorang Rasul (Musa) kepada Fir’aun
(dan rakyat Mesir).
16. Maka Fir’aun pun
menentang sang Rasul, sehingga Kami timpakan kepadanya siksa mahakeras.
***
( 14. Suatu masa (ada giliran) bumi dan gunung-gunung berguncang,
sehingga gunung-gunung pun seperti longsor seperti seonggok pasir).[4]
17. Bagaimanakah cara
kalian menyelamatkan diri, bila kalian mengabaikan (tidak mau tahu; kufur) –
informasi tentang – suatu masa (pergiliran sejarah), yang akan mengubah
‘bayi’ (segala yang dilahirkan) menjadi ‘orang tua beruban’ (menghadapi
ambang kematian)?[5]
18. (Perubahan itu
menyebabkan) as-sama’[6] (tatanan kehidupan, struktur
masyarakat) pecah berantakan. Ini merupakan rumusan-Nya (Allah) yang dulu
(dan seterusnya pasti) terlaksana.
19. Sungguh ini adalah
peringatan; sehingga siapa pun yang suka (maka ia akan menempuh jalan
(perjuangan) yang mengarahkan pada kepatuhan terhadap Tuhannya.
20. Maka Rabbmu
mengajarkan agar kamu (Muhammaddan pengikutnya) memilih waktu bangun malam
yang lebih cocok di antara dua pertiga, setengah, dan sepertiga malam; yakni
(agar) segolongan orang yang (mau melakukan hal yang sama) mengikuti dirimu
(dipersilakan memilih waktu yang cocok). Allah selalu memelihara kepastian
pergiliran malam dan siang. Dia (Allah) tahu bahwa (pengaturan waktu belajar
malam itu) tak akan pernah terlintas perhitungan(pikiran) kalian, sehingga Ia
memberikan rujukan (keterangan) kepada kalian. Maka selanjutnya (setelah ada
rujukan, yakni cara pembagian waktu itu), kajilah Al-Qurãn mulai dari yang
Dia mudahkan (berdasar kemampuan kalian). Ia (Allah) mengetahui bahwa di
antara kalian akan ada yang sakit (namun ia tetap bisa menggunakan waktu
malam untuk mengkaji Al-Qurãn semampunya) sementara yang lainnya sibuk
bertebaran di seantero bumi mencari rezeki yang diridhai Allah (namun dia
tetap bisa menggunakan waktu malam untuk mengkaji Al-Qurãn semampunya), dan
yang lainnya harus bertugas dalam peperangan demi menegakkan ajaran Allah
(tapi ia tetap bisa menggunakanwaktu malam untuk mengkaji Al-Qurãn
semampunya). (Justru karena itulah) maka kajilah dengan memilih yang Dia
mudahkan darinya (Al-Qurãn), lalu lakukan shalat (sebagai sarana pemantapan
hafalan dan penghayatan ke dalam kesadaran), dan selanjutnya wujudkan zakat
(sebagai gerakan permbersihan ajaran setan sekaligus penumbuhan ajaran
Allah), atau dengan kata lain) angsurlah (pengkajian dan pelaksanaan) konsep
Allah itu dengan cara mengangsur (mencicil; melakukan tahap demi tahap) yang
sebaik-baiknya. Karena kebaikan apa pun yang kalian segerakan (demi mematuhi
Allah), akan kalian dapati sebagai kebaikan yang bernilai di mata Allah,
dalam arti mendatangkan keuntungan lebih besar. Maka bangunlah kerinduan
untuk melakukan perbaikan hidup dengan ajaran Allah. Karena Allah (dengan
ajaran-Nya) adalah pelaku perbaikan serta pewujud kehidupan kasih-sayang
sejitu-jitunya.
Penjelasan
Istilah al-Muzzaammil biasa diterjemahkan secara harfiah sebagai
“orang berselimut”, dan yang disebut sebagai “orang berselimut” itu adalah
nabi Muhammad. Dengan demikian timbul pemahaman bahwa Surat ini (seperti juga
surat Al-Mudatstsir) diturunkan khusus untuk Nabi Muhammad.
Salah satu dalil yang digunakan adalah hadits bernomor 133 adalah Shahih
Muslim yang mengungkapkan kisah demikian:
Dari Jabir bin Abdullah Al-Anshari ra. (seorang sahabat Rasulullah saw.),
katanya Rasulullah pernah menceritakan tentang putusnya wahyu. Sabda beliau,
“Pada suatu ketika, sedang aku berjalan tiba-tiba aku mendengar suara dari
langit. Karena itu kuangkat pandanganku (ke arah suara tersebut), maka tampak
olehku malaikat yang pernah datang kepadaku di Gua Hira, sedang duduk di
kursi antara langit dan bumi.” Sabda Rasulullah saw. selanjutnya, “Dengan
perasaan terkejut bercampur takut, aku segera pulang. Sesampai di rumah, aku
berkata kepada Khadijah, “Selimuti aku! Selimuti aku!” Khadijah pun segera
menyelimutiku. Sedang aku berselimut itu, Allah Tabaraka wa ta’ala menurunkan
ayat, “Hai, orang yang berselimut! Bangunlah, dan berikan peringatan!
Dan Tuhan engkau Agungkanlah! Dan pakaian engkau bersihkanlah (sucikanlah)!
Dan perbuatan dosa jauhi lah! (Al-Mudatstsir 1-5) Sesudah itu wahyu turun
berturut-turut.[7]
Tentang nilai hadits ini, shahih atau tidak, biarlah kita serahkan kepada
ahlinya. Namun bila Surat Muzzammil dan Mudatstsir dikatakan sebagai
Surat-surat yang khusus diturunkan kepada Nabi Muhammad tentu patut
dipertanyakan, kenapa sekarang kita harus mengkajinya? Hanya untuk mengenang
cerita sejarah, atau memang surat-surat tersebut juga dihidangkan kepada kita
semua?
[3] Istilah bumi dan
gunung-gunung bisa jadi merupakan ungkapan untuk menyebut masyarakat dan
tokoh-tokohnya yang mendukung ajaran batil.
[4] Sengaja diulang
untuk mengingatkan bahwa alinea (ayat) 17 harus dikaitkan dengan alinea ke 14
ini
[5] Ayat ini
mengingatkan tentang waktu yang terus berjalan, ‘menghanyutkan’ kejadian demi
kejadian, yang pada gilirannya memunculkan peristiwa besar. Sehingga
terjadilah perubahan yang mengagetkan. Kata wildan jamak dari walid
secara harfiah berarti al-maulud (yang dilahirkan) atau ash-shobiyy
(anak kecil) atau al-‘abdu (budak, hamba). Dalam ayat ini diungkapkan
bahwa pada suatu masa al-wildan (para bayi) berubah menjadi syiban
(kakek/nenek); sebagai ungkapan bahwa yang lahir, berkembang, jadi dewasa,
akhirnya harus menemui saat akhir, yaitu kematian.
[6] As-sama’
secara harfiah berarti langit, surga dan segala penghuninya; sesuatu yang di
atas; sesuatu yang menjulang tinggi. Makna-makna tersebut tidak bisa masuk ke
dalam ayat ini, karena ada qarinah-qarinah yang mengisyaratkan makna lain,
yaitu kalimat kana wa’duhu maf’ulan. Secara harfiah kalimat ini
berarti: “dahulu ‘janji’-nya telah dilaksanakan. Hubungkan dengan kedua ayat
sebelumnya (15-16), yang menyebutkan pengutusan Rasul kepada kita dan
Fir’aun. Fir’aun menentang rasul, lalu mendapat bencana. Kerajaannya hancur,
dan dia sendiri binasa. Jadi kata as-sama’ dalam ayat ini jelas
berkaitan dengan sejarah Fir’aun; sehingga maknanya yang baligh (kena,
jitu) adalah: tatanan kehidupan, atau struktur masyarakat. Jelasnya, fir’aun
dengan segala kekuasaannya menjadikan kerajaannya demikian ‘tinggi menjulang’
dan dia sendiri menjadi sangat berkuasa, sampai memandang dirinya sebagai
Tuhan. Tentu saja dalam suatu tatanan atau struktur tertentu, yang – nota
benne – menyengsarakan rakyat. Tapi kata Allah, tatanan demikian itu akan
mencapai usia tuanya, alias akan tiba pada masa kebangkrutannya. Ini sudah
merupakan wa’dullah (konsep/rumusan Allah). Tidak ada sesuatu yang
tidak akan termakan oleh waktu!
|