Fakta Ganja: Obat Masa Depan (Bag.III )
Tikus-tikus tersebut diajarkan untuk melewati sebuah
labirin. Setelah dianggap menguasai labirin, tikus-tikus tersebut lalu
diberikan sejumlah dosis THC atau senyawa lain yang mirip dengan cannabinoid
untuk mengetes kemampuan mereka dalam mengingat labirin.
Kelompok tikus yang dengan reseptor cannabinoid pada
astroglia (kelompok-1) ternyata bermasalah dalam mengingat arah. Kelompok lain
yang hanya memiliki reseptor pada neuron (kelompok-2) tanpa masalah berhasil
melewati labirin.
Hal tersebut menunjukkan bahwa THC tidak mempengaruhi
memori melalui neuron (sel syaraf), namun melalui astroglia. Para
peneliti juga memperhatikan sel-sel astroglial pada bagian potongan otak
yang berasal dari hippocampus (bagian otak yang berkaitan dengan
pembentukan memori).
Setelah terkena cannabinoid, astroglia melepaskan
senyawa yang mengganggu pengiriman sinyal antar neuron. Hal tersebut bisa
menjelaskan mengapa ganja bisa memengaruhi memori.
Efek lain dari ganja yang bisa dikatakan bermanfaat
adalah dalam mengobati rasa sakit, kejang, dan beberapa penyakit lainnya
terjadi melalui neuron.
Jika zat cannabinoid bisa didesain hanya untuk
memengaruhi neuron, pengaruh buruk ganja pada memori tentu bisa dihindari dan
tentu saja pengobatan menggunakan ganja dimasa depan untuk banyak penyakit akan
bisa dilakukan.
Untuk Obat,
Ilmuwan Ciptakan Ganja Tidak Memabukkan
Ilmuwan Israel berhasil menciptakan ganja sintetis
yang bentuk, bau, dan rasanya menyerupai daun ganja asli. Satu-satunya yang
menjadi yang pembeda adalah, ganja sintetis ini tidak menimbulkan efek
memabukkan selayaknya ganja sungguhan. Dan karena memiliki bau, bentuk dan rasa
menyerupai ganja asli, produk ini berhasil menipu pasien.(Bersambung)

