Penderita ADHD, Raih Emas Juara Renang Olimpiade
The Jambi Times, Michael Phelps dikenal sebagai salah satu perenang terbesar dalam sejarah olahraga. Di balik puluhan medali yang diraihnya, ada sebuah perjalanan panjang yang dimulai sejak ia masih kecil, ketika dirinya justru dianggap sulit diatur dan kesulitan memusatkan perhatian.
Pada usia 9 tahun, Phelps didiagnosis ADHD. Di sekolah, ia disebut sebagai anak yang sulit fokus, terlalu aktif, mengganggu kelas, bahkan dianggap sulit ditangani. Ada pula guru yang mengatakan bahwa Michael tidak akan pernah mampu benar-benar berkonsentrasi pada sesuatu.
Namun, sang ibu, Debbie Phelps, memilih melihat putranya dari sisi yang berbeda.
Alih-alih hanya berusaha membuat Michael menjadi anak yang lebih mudah diatur di dalam kelas, Debbie mencari sesuatu yang mampu membuat putranya benar-benar tenggelam dalam aktivitas tersebut. Ia menemukan jawabannya di sebuah kolam renang.
Di dalam air, energi Michael mendapatkan tempat untuk disalurkan. Intensitas gerak, kebutuhan untuk terus bergerak, serta kemampuannya untuk memberikan perhatian penuh ketika sudah tertarik pada sesuatu, justru menjadi bagian penting dari perkembangannya sebagai atlet.
Debbie kemudian membangun kehidupan Michael dengan rutinitas yang sangat terstruktur. Latihan menjadi bagian dari kesehariannya, bahkan pada hari ulang tahun maupun Natal. Rutinitas tersebut bukan sekadar aturan, tetapi menjadi kerangka yang membantu Michael menjalani proses latihan dan mengejar targetnya.
Ketika sekolah menggambarkan Michael sebagai anak yang tidak mampu fokus, Debbie justru menunjukkan kepadanya bukti bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan dirinya.
Michael memiliki hal-hal yang mampu membuatnya fokus dalam waktu lama. Ia memiliki ketertarikan pada akuarium ikannya, mencatat statistik, memperhatikan catatan waktu, dan tentu saja menghabiskan banyak waktu di kolam renang.
Pesan yang diberikan sang ibu sederhana tetapi kuat: jangan biarkan penilaian orang lain menjadi identitas seorang anak.
Dalam perjalanan tersebut, Debbie juga tetap berada di sisi Michael ketika keadaan tidak selalu mudah. Phelps sendiri pernah berbicara secara terbuka mengenai masa-masa sulit dalam hidupnya dan periode ketika ia menarik diri secara emosional. Di tengah berbagai fase tersebut, hubungan dengan ibunya tetap menjadi salah satu hubungan yang konsisten dalam hidupnya.
Debbie juga menemukan sosok pelatih yang mampu memahami cara Michael bekerja sebagai seorang atlet, yaitu Bob Bowman. Pola latihan yang terstruktur, umpan balik yang cepat, serta target-target kecil yang terus dibangun menjadi bagian dari proses pembentukan Phelps sebagai perenang.
Hasilnya kemudian menjadi sejarah.
Michael Phelps memenangkan 23 medali emas Olimpiade, sekaligus menjadi salah satu atlet Olimpiade paling berprestasi sepanjang masa. Pencapaian tersebut tidak datang dalam semalam. Di belakangnya ada ribuan jam latihan, disiplin, kegagalan, tekanan, dukungan keluarga, dan lingkungan yang terus membantunya berkembang.
Kisah Phelps dan ibunya kemudian membawa sebuah pesan yang lebih luas bagi para orang tua.
Seorang anak tidak selalu membutuhkan orang dewasa untuk mengubah dirinya menjadi seperti yang diharapkan lingkungan. Terkadang, yang dibutuhkan adalah seseorang yang mau melihat lebih dalam, menemukan apa yang membuatnya bersemangat, lalu membantu anak tersebut menemukan tempat di mana kemampuannya bisa berkembang.
Bagi Debbie Phelps, tantangannya bukan menghilangkan ADHD dari kehidupan Michael. Ia mencari cara agar Michael dapat berkembang bersama kondisi yang dimilikinya.
Dari seorang anak yang pernah dianggap tidak mampu fokus, Michael akhirnya menemukan sesuatu yang mampu membuatnya fokus bertahun-tahun: kolam renang.
Dan dari sana, lahirlah perjalanan panjang menuju 23 medali emas Olimpiade.(**)
