Bupati Halmahera Timur Divonis 4,5 Tahun

MALUKUUTARA | Terdakwa Bupati nonaktif Halmahera Timur Rudy Erawan divonis 4,5 tahun penjara oleh majelis hakim pada Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta. Rudy juga diwajibkan membayar denda Rp 250 juta subsider 6 bulan kurungan.

"Mengadili, menyatakan terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan berlanjut," ujar ketua majelis hakim Fashal Hendri saat membaca amar putusan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (26/9/2018).

Dalam pertimbangan, hakim menilai perbuatan Rudy tidak mendukung program pemerintah yang sedang giat memberantas korupsi. Perbuatan Rudy dinilai menciderai tatanan birokrasi yang bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme.

Rudy juga tidak merasa bersalah dan tidak mengakui perbuatannya
Rudy Erawan terbukti menerima suap Rp 6,3 miliar. Uang itu diberikan oleh Amran HI Mustary selaku Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) IX Maluku dan Maluku Utara.

Uang tersebut diberikan karena Rudy telah menjembatani kepentingan Amran untuk menjadi Kepala BPJN IX Maluku dan Maluku Utara. Pencalonan Amran dilakukan dengan cara kolusi dan nepotisme dengan pejabat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).di kutip dari kompas,com

Hal tersebut membuat aktifis Gerakan perjuangan ekonomi kerakyatan  halmahera Timur (GERPOLEK _HALTIM),arjun ONGA angkat bicara ,mestinya KPK tidak hanya mengadili Rudy irawan,tapi  bagimana mestinya datang ke halmahera Timur,untuk menelusuri aset asetnya yang di duga di dapat dari Hasil kejahatan korupsi ."KPK harus menyita asetnya ungkap Arjun "saat di temui di kediamannya,(jum,at 14/12/2018).

Arjun juga mengatakan bahwa patut di duga aset Rudy erawan yang berada di halmahera Timur Masi cukup banyak.Salah satunya,aset  pendoponya  yang berdiri di atas lahan sawah yang berada di jalan trans subaim desa  makarsari Sp1 wasile induk,kabupaten halmahera Timur,

Ketika media ini mencoba menyambangi pendoponya ,namun pendopo tersebut terlihat Bak rumah hantu,hanya terlihat seorang, pria yang sedang mencuci mobil namun Kami mencoba menanyakan siaapa yang menghuni pendopo ini,pria tersebut ,diam seribu bahasa"mas boleh di buka pintunya kami mau konfirmasi Masi,pria tersebut mengatakan kuncinya di bawah teman mas"ungkapnya.

Kami juga mencoba me wawancarai warga di sekitar  pendopo sebut saja,MAKSi yang keseharianya  bekerja sebagai petani sawah yang berada di sekitar pendopo ,mengataakan mereka hanya datang begitu saja, setelah itu langsung pulang,tidak tau siapa sebenarnya menempati , kalau dulu ada orang Jawa yang tinggal disini ,dulu masih ada bupati, rumah ini di urus, sekarang yah begini,  di tanya soal isu pendopo yang akan  jual ,dia tidak mengetahui hal itu,,kalau itu saya tidak tahu ,katanya.