Sufardi : Pola Perkebunan Masyarakat Harus di Rubah
The Jambi Times - Jambi - Mengaku prihatin dengan penurunan harga karet, Sufardi Nurzain, dewan DPRD provinsi Jambi mendorong pemerintah provinsi untuk menyikapi hal ini. Menariknya, politisi Partai Golkar ini menyebutkan "latah"nya petani menjadi salah satu faktor penurunan harga karet.
Ditemui The Jambi Times di DPRD Provinsi, Sufardi yang mengaku berasal dari keluarga petani ini memahami betul pola para petani.
"Misalnya harga sawit melambung, petani karet menanam sawit. Kopi punya harga tinggi, petani ikutan menanam kopi dengan menganti kebun karetnya menjadi kebun kopi," jelas dewan dari Dapil Sarolangun-Merangin ini.
Sebaiknya, lanjut Sufardi, petani tidak mengikuti hal ini. Kemudian dirinya menyebutkan pembagian tanaman sebaiknya tidak fokus hanya pada satu komoditi saja.
"Kalau lahannya 4 ha, dibagi 2 kebun. Misalnya 2 ha untuk karet, dan 2 ha lainnya untuk tanaman lain seperti sawit, coklat atau kopi. Sehingga saat harga karet turun, petani dapat mengandalkan hasil kebun lainnya," papar pria asal Jangkat, Merangin ini.
Untuk itu, Sufardi meminta Pemerintah Provinsi dapat menyikapi hal ini. Selain itu, Sufardi juga mengingatkan akan dampak sosial lain yang dihadapi petani seperti kebutuhan hidup, pendidikan dan kesehatan untuk menjadi perhatian Pemprov Jambi.
"Pihak terkait seperti Dinas Perkebunan, Perdagangan dan Gapkindo untuk duduk bersama mencari solusi harga karet," tegas Sufardi.(wn)
Ditemui The Jambi Times di DPRD Provinsi, Sufardi yang mengaku berasal dari keluarga petani ini memahami betul pola para petani.
"Misalnya harga sawit melambung, petani karet menanam sawit. Kopi punya harga tinggi, petani ikutan menanam kopi dengan menganti kebun karetnya menjadi kebun kopi," jelas dewan dari Dapil Sarolangun-Merangin ini.
Sebaiknya, lanjut Sufardi, petani tidak mengikuti hal ini. Kemudian dirinya menyebutkan pembagian tanaman sebaiknya tidak fokus hanya pada satu komoditi saja.
"Kalau lahannya 4 ha, dibagi 2 kebun. Misalnya 2 ha untuk karet, dan 2 ha lainnya untuk tanaman lain seperti sawit, coklat atau kopi. Sehingga saat harga karet turun, petani dapat mengandalkan hasil kebun lainnya," papar pria asal Jangkat, Merangin ini.
Untuk itu, Sufardi meminta Pemerintah Provinsi dapat menyikapi hal ini. Selain itu, Sufardi juga mengingatkan akan dampak sosial lain yang dihadapi petani seperti kebutuhan hidup, pendidikan dan kesehatan untuk menjadi perhatian Pemprov Jambi.
"Pihak terkait seperti Dinas Perkebunan, Perdagangan dan Gapkindo untuk duduk bersama mencari solusi harga karet," tegas Sufardi.(wn)
