Wali Kota Jambi

Gubernur Jambi

Selamat Idul Fitri 2019

Terpopuler

Back to Top
Loading...

Video

Exit Poll Luar Negeri Jokowi Menang Telak, KPU: Pihaknya Mengatur Exit Poll Dalam Negeri

Pasang Iklan Gratis
Pasang Iklan Gratis Di iklan the jambi times http://iklan.thejambitimes.com

Video Jambi Terkini
Lihat Video Berita seputar Jambi
http://tv.thejambitimes.com

Pasang Iklan Disini
Pasang Iklan Disini Hub. 0813 6687 8833
http://www.thejambitimes.com

Tunjukan.com
Portal Berita Tunjukan
http://www.tunjukan.com

Ads by Iklan The Jambi Times

(Exit pol milik JPP-Asean)

 The Jambi Times, JAKARTA | Maraknya Exit Poll yang di keluarkan oleh berbagai lembaga  Survei luar negeri pasca pencoblosan di beberapa negara yang di mulai pada 10-13-14 April 2019 yang lalu seperti lembaga survei Jaringan Pemantau Pemilu (JPP-Asean ) hasil survei JPP ini  telah beredar luas di media sosial seperti di WhatsApp dan lain lainnya.



Yang mana dalam survei milik JPP menjelaskan bahwa pasangan Joko Widodo-Makruf Amin menang telak  di semua negara. Namun Exit Polling ini masih di ragukan kebenaranya karena tidak terdaftar dan terverifikasi di KPU Pusat, dari 40 Lembaga survei nasional ini tidak ada JPP masuk di dalamnya namun pihak KPU juga tidak membeberkan lembaga survei luar negeri yang terdaftar di KPU Pusat.



Menanggapi itu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI menjelaskan pihaknya memang tidak mengatur regulasi exit poll Pemilu luar negeri. KPU hanya mengatur kegiatan tersebut untuk Pemilu dalam negeri.





Penjelasan Viryan  Komisioner KPU Pusat mengacu pada ketentuan dalam Pasal 449 Ayat 5 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 Tentang Pemilu (UU Pemilu).

Berdasarkan keputusan dari Mahkamah Konstitusi (MK) lembaga survei mulai melakukan Quick Count atau penghitungan cepat ditentukan dan dimulai pada pukul 15:00 Wib 17 April 2019, dua atau tiga jam setelah pencoblosan di TPS tanah air.

Sementara itu, Komisioner KPU lainnya, Ilham Saputra mengatakan, belum mendapatkan laporan soal rilis hasil Pemilu luar negeri lewat metode exit poll tersebut, sehingga enggan berkomentar lebih jauh. Terlebih, KPU tidak mengatur hal tersebut.

Sebelumnya, beredar sejumlah hasil. Di Singapura, pasangan Joko Widodo (Jokowi)-KH Ma’ruf Amin memperoleh 69,86%, sedangkan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno 21,24%. Sementara untuk parpol, PSI 19,8%, PDIP 16,8%, dan PKB 12,5%.

Di Melbourne Australia, Jokowi-Ma’ruf memperoleh 80,91%, Prabowo-Sandi 10,91%. Sementara untuk parpol PSI 39,09 %, PDIP 24,55 %, dan sebanyak 20,00 % menyatakan tidak jawab/rahasia.


Di Berlin, Jerman, paslon nomor urut 01 79,3%, Prabowo-Sandi 11,2%. Untuk parpol, PSI 31,9%, PDIP 18,1%, dan rahasia/tidak jawab 12,1%.

Di Sydney, Australia, Jokowi-Ma’ruf 80,83%, Prabowo-Sandi 12,50%, dan 6,67% lainnya menyatakan rahasia atau tidak menjawab. Untuk parpol, PDIP 20,83%, PSI 30,83%, tidak jawab/rahasia 35%.

Sementara exit poll di Toronto Amerika Serikat, Jokowi-Ma’ruf 76,7%, sedangkan kompetitornya 7,8%. Sebanyak 15% lainnya tidak menjawab. Sementara PDIP mendapat 22,4%, PSI 50,9%, dan yang menyatakan rahasia sebesar 19%..

 Bagaimana perbandingannya dengan data Februari 2019? Pasangan manakah yang paling potensial meraih kemenangan? Apakah variabel yang bisa membatalkan kemenangan itu?

Survei nasional Indo Barometer Maret 2019 membaca tanda kemenangan itu kuat ada di paslon Jokowi-Maruf Amin. Tanda kemenangan dapat dilihat dari Lima indikator utama yang akan dipaparkan satu demi satu dalam rilis survei ini.

Lima indikator kemenangan Jokowi-Amin adalah: 1) Mayoritas publik Indonesia puas atas kinerja Jokowi sebagai calon petahana: 2) Penilaian kualitas personal Jokowi lebih baik daripada Prabowo; 3) Tiga kartu baru Jokowi sangat disukai masyarakat; 4) Mayoritas pemilih menganggap Jokowi lebih mewakili aspirasi umat Islam dibanding Prabowo, termasuk di kalangan santri; dan 5) Keunggulan Jokowi merata di berbagai segmen penting pemilih seperti, jenis kelamin, desa kota, pulau, agama, usia, pendidikan, dll.

Lima indikator di atas, ditambah masih jauhnya selisih paslon 01 dan 02 menurut survei nasional Februari dan Maret 2019, merupakan penanda kuat kemenangan pasangan Jokowi-Amin. Namun kemenangan itu akan batal jika pendukung Jokowi-Amin golputnya mencapai 40% sementara pendukung Prabowo-Subianto tidak ada yang golput.

Survei Nasional ini dilaksanakan pada 15 – 21 Maret 2019. Metode yang digunakan adalah multistage random sampling dengan 1200 responden. Margin of error sebesar ± 2.83%, pada tingkat kepercayaan 95%. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara tatap muka responden menggunakan kuesioner. Responden survei adalah warga negara Indonesia yang sudah mempunyai hak pilih berdasarkan peraturan yang berlaku, yaitu warga yang minimal  berusia 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah pada saat survei dilakukan.


Mengenai temuan pokok survei adalah sebagai berikut, untuk lebih lengkapnya silahkan mengacu pada laporan power point :

Ringkasan Bagian I: Elektabilitas Calon Presiden, Wakil Presiden, dan Paslon


• Dalam survei Indo Barometer Maret 2019, dari head to head calon presiden dengan menggunakan simulasi gambar, Joko Widodo unggul dengan dukungan (52.1%), sementara Prabowo Subianto (31.8%). Selisih (20,3%). Tidak menandai apapun pada kertas suara (16.1%). Bandingkan dengan survei Februari 2019 dimana Joko Widodo 51,2%. Sementara Prabowo Subianto adalah 28,9% (selisih 22,3%). Adapun undecided voters 19,9%.


• Dari head to head calon wakil presiden dengan menggunakan simulasi gambar, Ma’ruf Amin unggul dengan dukungan (46.3%), sementara Sandiaga Uno (33.8%). Selisih (12.5%). Pemilih yang tidak menandai apapun pada kertas suara (19.8%). Bandingkan dengan survei Februari 2019 dimana Ma’ruf Amin 44,5%. Sementara Sandiaga Uno adalah 32,1% (selisih 12,4%). Adapun undecided voters 23,4%.


• Dari head to head antar pasangan calon presiden – wakil presiden dengan menggunakan simulasi gambar, Pasangan Jokowi – Amin unggul (50.8%). Sementara Prabowo – Sandi (32.0%). Selisih (18.8%). Tidak menandai apapun pada kertas suara (17.2%). Bandingkan dengan survei Februari 2019, dimana Pasangan Jokowi – Amin unggul (50.2%). Sementara Prabowo – Sandi (28.9%). Selisih (21.3%). Adapun undecided voters (20.9%).  



• Jika diproyeksikan hasil survei Maret 2019 ke 17 April 2019 (yang tidak  menandai surat suara dibagi proporsional), pasangan Jokowi – Amin unggul dengan proyeksi (61.3%). Sementara Prabowo – Sandi (38.7%).

Ringkasan Bagian II: Mayoritas Publik Puas atas Kinerja Calon Petahana

• Mayoritas publik (64.4%) PUAS terhadap kinerja Joko Widodo sebagai presiden dan yang tidak puas (31.6%). Dari distribusi terhadap pilihan pasangan calon, pemilih yang puas terhadap kinerja Jokowi lebih banyak memilih pasangan Jokowi – Amin sebesar (75.2%). Sedangkan pemilih yang tidak puas lebih banyak memilih pasangan Prabowo – Sandi sebesar (74.1%).


• Mayoritas publik (63.2%) PUAS terhadap kinerja Pasangan Jokowi – Jusuf Kalla. Yang merasa tidak puas (32.2%).


• Tiga alasan tertinggi publik PUAS terhadap kinerja Joko Widodo – Jusuf Kalla adalah karena kinerjanya bagus/terbukti (36.4%), pembangunan merata (11.5%), dan banyaknya pembangunan/perbaikan infrastruktur (9.2%).


• Tiga alasan tertinggi publik TIDAK PUAS terhadap kinerja Joko Widodo - Jusuf Kalla adalah karena harga kebutuhan pokok mahal (19.2%), perekonomian masyarakat semakin sulit (18.1%), dan sulitnya lapangan pekerjaan (15.0%).

Ringkasan Bagian III: Kualitas Personal Jokowi dianggap Lebih baik daripada Prabowo


• Dalam aspek penilaian terhadap kepribadian capres, Jokowi lebih unggul dalam aspek: berpengalaman (88.3%), perhatian dan dekat dengan rakyat (86.2%), pintar/intelektual (84.4%), 

mampu memimpin (77.7%), islami/taat beragama (74.5%), dan jujur/bersih dari korupsi (67.8%).

• Dalam aspek penilaian terhadap kepribadian capres, Prabowo lebih unggul dalam aspek: tegas (83.2%), dan berwibawa sebagai pemimpin (79.9%).


• Dalam aspek penilaian terhadap kemampuan capres, Jokowi lebih unggul dalam semua aspek: mampu mengatasi masalah sosial (80.2%), mampu mengatasi masalah keamanan (79.2%), mampu mengatasi masalah hukum (73.9%), dan mampu mengatasi masalah ekonomi secara umum (61.3%).


• Dalam aspek penilaian terhadap kepribadian cawapres, Ma’ruf Amin lebih unggul dalam aspek: islami/taat beragama (86.8%), dan jujur/bersih dari korupsi (63.6%).


• Dalam aspek penilaian terhadap kepribadian cawapres, Sandiaga Uno lebih unggul dalam aspek: pintar/intelektual (83.8%), berwibawa sebagai pemimpin (72.0%), mampu memimpin (66.4%), perhatian dan dekat dengan rakyat (64.6%), berpengalaman (59.9%), dan tegas (59.7%).


• Dalam aspek penilaian terhadap kemampuan cawapres, Sandiaga Uno lebih unggul dalam semua aspek: mampu mengatasi masalah sosial (60.1%), mampu mengatasi masalah ekonomi secara umum (57.0%), mampu mengatasi masalah keamanan (54.9%), dan mampu mengatasi masalah hukum (54.2%).

Ringkasan Bagian IV: Tiga Kartu Jokowi disukai Masyarakat, walau masih kurang dikenal


• Sebanyak (40.5%) publik mengetahui/pernah mendengar program Jokowi-Amin yang bernama “Kartu Sembako Murah” (KSM). Yang tidak mengetahui (59.5%). Dari mereka yang tahu/pernah mendengar, mayoritas publik (89.9%) setuju dengan program tersebut. Yang tidak setuju (4.9%).


• Jika didistribusi terhadap pilihan paslon, mereka yang setuju KSM mayoritas mendukung Jokowi-Amin sebesar (64.8%). Sedangkan yang tidak setuju mayoritas mendukung Prabowo – Sandi sebesar (75.0%).


• Tiga alasan tertinggi publik SETUJU terhadap Program Kartu Sembako Murah (KSM) adalah membantu perekonomian rakyat (60.6%), meringankan beban rakyat (14.6%), dan harga sembako murah (10.3%). 


• Tiga alasan tertinggi publik TIDAK SETUJU terhadap Program Kartu Sembako Murah (KSM) adalah karena pembagiannya tidak merata/tidak tepat sasaran (45.8%), programnya tidak bermanfaat (16.7%), dan menambah hutang negara (4.2%).


• Sebanyak (27%) publik mengetahui/pernah mendengar  program Jokowi-Amin yang bernama “Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah)”. Yang tidak mengetahui (73.0%). Dari mereka yang tahu/pernah mendengar, mayoritas publik (85.5%) setuju dengan program tersebut. Yang tidak setuju (6.8%).


• Jika didistribusi terhadap pilihan paslon, mereka yang setuju Kartu Kuliah mayoritas mendukung Jokowi-Amin sebesar (70.4%). Sedangkan yang tidak setuju mayoritas mendukung Prabowo – Sandi sebesar (72.7%).


• Tiga alasan tertinggi publik SETUJU terhadap Program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah) adalah karena programnya bermanfaat (33.9%), membantu masyarakat agar dapat sekolah tinggi (24.2%), dan biaya pendidikan ringan/gratis (15.5%). 


• Tiga alasan tertinggi publik TIDAK SETUJU terhadap Program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah) adalah karena pembagiannya tidak merata/tidak tepat sasaran (22.7%), programnya tidak bermanfaat (13.6%), dan menambah hutang negara (13.6%).


• Sebanyak (27.8%) publik mengetahui/pernah mendengar program Jokowi-Amin yang bernama “Kartu Pra Kerja (KPK)”. Yang tidak mengetahui (72.2%). Dari mereka yang tahu/pernah mendengar, mayoritas publik (69.2%) setuju dengan program tersebut. Yang tidak setuju (22.2%).
• Jika didistribusi terhadap pilihan paslon, mereka yang setuju KPK mayoritas mendukung Jokowi-Amin sebesar (72.7%). Sedangkan yang tidak setuju mayoritas mendukung Prabowo – Sandi sebesar (60.6%).


• Tiga alasan tertinggi publik SETUJU terhadap Program Kartu Pra Kerja (KPK) adalah karena programnya bermanfaat (30.3%), masyarakat lebih mudah mendapatkan pekerjaan (18.2%), dan mampu mengurangi kemiskinan (15.2%). 


• Tiga alasan tertinggi publik TIDAK SETUJU terhadap Program Kartu Pra Kerja (KPK) adalah karena tidak mendidik rakyat (44.6%), angka pengangguran bertambah (10.8%), dan pembagiannya tidak tepat sasaran (9.5%).


• Info untuk kedua Paslon jika Menang: Tiga (3) jenis sembako yang dianggap paling penting oleh masyarakat Indonesia adalah Beras/Sagu, Minyak Goreng/Mentega dan Gula Pasir.

Ringkasan Bagian V:  Jokowi dan Ma’ruf Amin Lebih Mewakili Aspirasi Umat Islam
• Pengalaman pilkada DKI Jakarta menunjukkan, selain faktor kinerja calon petahana, sentimen isu Islam dapat mempengaruhi peluang menang calon.


• Dalam survei Indo Barometer 6 – 11 April 2017 di Pilkada DKI Jakarta, ditemukan kepuasan pada calon petahana Basuki Tjahaja Purnama tinggi (73.5%). Biasanya calon petahana dengan kepuasan setinggi ini menang pemilu. 


• Namun dalam survei tersebut elektabilitas Basuki-Djarot (39%) kalah dari Anies-Sandi (49%) karena mayoritas pemilih Muslim di Jakarta tersinggung dengan pernyataan Basuki soal Al-Maidah: Ayat 51. Yang tersinggung 57.8%. Yang tidak tersinggung 21.9%. Yang tersinggung mayoritas memilih Anies-Sandi (82.7% vs 8.1%). Sementara yang tidak tersinggung mayoritas memilih Basuki-Djarot (68.8% vs 23.6%).


• Jokowi bukan Ahok, namun sering diserang dengan isu tidak dekat dengan islam. Jika opini mayoritas muslim Indonesia mengganggap demikian,  elektabilitas  Jokowi bisa terganggu, lepas dari kinerjanya. Temuan survei ini menunjukkan ternyata mayoritas pemilih muslim nasional mengganggap Jokowi lebih mewakili aspirasi umat Islam dibanding Prabowo Subianto.
 (Khusus Responden Islam=  87.9%)


• Mayoritas (45.5%) responden Muslim menyebut Joko Widodo adalah capres yang paling mewakili aspirasi umat Islam. Sedangkan sebanyak (30%) menyebut Prabowo Subianto. Jika didistribusi terhadap pilihan paslon, mereka yang menyebut Joko Widodo capres yang paling mewakili aspirasi umat Islam mayoritas mendukung Jokowi-Amin sebesar (89%). Sedangkan menyebut Prabowo Subianto, mayoritas mendukung pasangan Prabowo – Sandi sebesar (92.1%).


• Mayoritas (55.4%) responden Muslim menyebut Ma’ruf Amin adalah cawapres yang paling mewakili aspirasi umat Islam. Sedangkan sebanyak (24.8%) menyebut Sandiaga Uno. Jika didistribusi terhadap pilihan paslon, mereka yang menyebut Ma’ruf Amin adalah cawapres yang paling mewakili aspirasi umat Islam mayoritas mendukung Jokowi-Amin sebesar (74.8%). 


Sedangkan menyebut Sandiaga Uno, mayoritas mendukung pasangan Prabowo – Sandi sebesar (93.1%).

• Mayoritas (47.1%) responden Muslim menyebut pasangan Joko Widodo - Ma’ruf Amin adalah pasangan capres-wapres yang paling mewakili aspirasi umat Islam. Sedangkan sebanyak (28.2%) menyebut pasangan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno. Jika didistribusi terhadap pilihan paslon, mereka yang menyebut Jokowi-Amin adalah pasangan yang paling mewakili aspirasi umat Islam mayoritas mendukung Jokowi-Amin sebesar (88.3%). Sedangkan menyebut Prabowo Subianto - Sandiaga Uno, mayoritas mendukung pasangan Prabowo – Sandi sebesar (93.6%).


• Mayoritas (42.3%) responden Muslim menyebut Koalisi Indonesia Maju adalah koalisi parpol pasangan capres-cawapres yang paling mewakili aspirasi umat Islam. Sedangkan sebanyak (29.2%) menyebut Koalisi Indonesia Adil Makmur. Jika didistribusi terhadap pilihan paslon, mereka yang menyebut Koalisi Indonesia Maju yang paling mewakili aspirasi umat Islam mayoritas mendukung Jokowi-Amin sebesar (90.4%). Sedangkan menyebut Koalisi Indonesia Adil Makmur, mayoritas mendukung pasangan Prabowo – Sandi sebesar (93.8%).


• Mayoritas responden Muslim menganggap Partai Politik yang paling mewakili aspirasi umat Islam adalah PKB (24.6%), PKS (18.1%), PPP (17.3%), PDI Perjuangan (5.1%), dan Gerindra (3.7%).


•  Mayoritas (73.8%) responden Muslim menganggap diri sebagai Santri. Sedangkan yang tidak menganggap sebagai Santri sebanyak (21.1%). Jika didistribusi terhadap pilihan paslon, mereka yang menganggap sebagai Santri mayoritas mendukung Jokowi-Amin sebesar (46.9%). Sedangkan yang tidak menganggap sebagai Santri, mayoritas juga mendukung pasangan Jokowi-Amin sebesar (43.5%).


• Mayoritas (65.2%) responden Santri menganggap ajaran dan praktek Islam di Indonesia harus menyesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat di Indonesia. Sedangkan (23.2%) menganggap ajaran dan praktek Islam di Indonesia harus mengikuti (sesuai) dengan ajaran dan prakteknya di Arab (Timur Tengah). 


• Jika didistribusi terhadap pilihan paslon, mereka yang menganggap ajaran dan praktek Islam di Indonesia harus menyesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat di Indonesia mayoritas mendukung Jokowi–Amin sebesar (50.2%). Sedangkan menganggap ajaran dan praktek Islam di Indonesia harus mengikuti (sesuai) dengan ajaran dan prakteknya di Arab (Timur Tengah), mayoritas mendukung pasangan Prabowo – Sandi sebesar (44.2%).


Ringkasan Bagian VI: Kekuatan Paslon 01 Merata dalam Berbagai Segmen Pemilih


• Berdasarkan kategori Jenis Kelamin: Pasangan Jokowi-Amin unggul diseluruh kategori jenis kelamin, laki-laki (51.8%) dan perempuan (49.8%).


• Berdasarkan kategori wilayah Desa-Kota: Pasangan Jokowi-Amin unggul diseluruh wilayah, desa (52.5%) dan kota (49.2%).


• Berdasarkan kategori Pulau: Pasangan Jokowi-Amin unggul disemua Pulau, Pulau Jawa (54.9%), Sumatera (42.4%), dan pulau lainnya (48.5%).


• Berdasarkan kategori Agama: Pasangan Jokowi-Amin unggul disemua pemeluk agama, Islam (46.4%), Kristen (Katolik+Protestan) (82%), Hindu (100%), dan Budha (100%).  Berdasarkan kalangan Muslim dan Non Muslim. Pasangan Jokowi-Amin unggul disemua kalangan, Muslim (46.4%) dan Non Muslim (83.4%). 


• Berdasarkan kategori Ormas Islam: Pasangan Jokowi-Amin unggul disemua Ormas Islam. Dipemilih Nahdlatul Ulama (NU) (54%) dan Muhammadiyah (45%).


• Berdasarkan kategori Usia: Pasangan Jokowi–Amin unggul disemua kategori Usia. Usia ≤ 22 tahun (65.9%), 23 – 29 tahun (47.7%), 30-39 tahun (47.8%), 40-50 tahun (50.3%), dan usia ≥50 tahun (54.5%). Dan Pasangan Joko–Amin juga unggul di semua Generasi Pemilih, pemilih milenial (≤ 35 th) (47.5%), dan pemilih non milenial (≥ 35 th) (54.5%).


• Berdasarkan kategori Pendidikan: Pasangan Jokowi-Amin unggul di semua kategori pendidikan. Di Pemilih belum tamat SD (49.8%), Tamat SLTP (52.8%), Tamat SLTA (50.8%), dan dipemilih Perguruan Tinggi (45.6%).


• Berdasarkan kategori Pekerjaan/Profesi: Pasangan Jokowi-Amin unggul di profesi pemilih ibu rumah tangga (50.1%), masih sekolah (77.8%), petani (55%), buruh (50.3%), pegawai swasta (42.9%), pedagang/pengusaha (47.4%), supir/tukang ojek (45.9%), dan belum/tidak bekerja (55.6%). Sedangkan pasangan Prabowo – Sandi unggul di profesi Guru (52.2%).


• Berdasarkan kategori Pendapatan dan Pengeluaran: Pasangan Jokowi-Amin unggul disemua kategori pendapatan dan pengeluaran pemilih. Pendapatan Rp ≤ 800.000 (58.5%), 800.001 - Rp 1.750.000 (60%), Rp 1.750.001 - Rp 3.000.000 (46.3%), dan ≥ Rp 3.000.000 (49.8%). Sedangkan pengeluaran Rp ≤ 800.000 (62.9%), Rp 800.001 - Rp 1.750.000 (54.2%), Rp 1.750.001 - Rp 3.000.000 (47.6%), dan ≥ Rp 3.000.000 (50.3%).


• Berdasarkan kategori Gabungan Partai Politik pendukung: gabungan parpol koalisi pasangan Jokowi–Amin solid dengan dukungan (84.8%). Sedangkan gabungan koalisi parpol pasangan Prabowo – Sandi solid dengan dukungan (84.6%).

Ringkasan Bagian VII: Golput: Variabel yang dapat membatalkan Kemenangan Jokowi


• Golput dapat membatalkan kemenangan paslon 01, Jika 40 persen pendukung Jokowi-Amin tidak datang ke TPS (Golput) dan sebaliknya, jika seluruh pendukung 02 Prabowo-Sandi datang.


• Jika mengacu survei Indo Barometer Maret 2019, hitungannya sebagai berikut: pemilih Jokowi-Amin 50%-(40% golput) = 50%-20% = 30%. Sementara pemilih Prabowo-Sandi 32%-(0% golput) = 32%-0% = 32%. (Asumsi: yang tidak menjawab dalam survei diabaikan).


Ringkasan Bagian VIII: Kompilasi Hasil Survei Pilpres Maret 2019 


• Dari kompilasi survei nasional yang dipublikasi pada Maret 2019, pasangan Jokowi-Amin konsisten unggul daripada pasangan Prabowo - Sandi.


• Selisih Jokowi-Amin vs Prabowo-Sandi pada survei Maret 2019, paling kecil 18.1% (survei CSIS). Paling besar 20.5% (survei Vox Populi).

Indo Barometer telah membuktikan akurasi survei nasionalnya pada pilpres 9 Juli 2014 yang lalu. Hasil survei tersebut dipublikasikan pada 29 Juni 2014 dan dapat dicek di media massa.



Sementara prediksi yang di lakukan oleh Survei Nasional Charta Politika Indonesia Jakarta, 13 April 2019 


Prediksi Pemenang Pilpres dan Pileg 2019

Survei ini dilakukan untuk membaca preferensi politik masyarakat pada tanggal 5–10 April 2019 melalui wawancara tatap muka secara langsung dengan menggunakan kuesioner terstruktur. Jumlah sampel sebanyak 2000 responden,  yang tersebar di 34 Provinsi. Metodologi yang digunakan adalah metode acak bertingkat (multistage random sampling) dengan margin of  error  ± (2.19%)  pada tingkat kepercayaan 95%.

Survei ini memotret: 1) gambaran umum perolehan suara dari partai-partai politik pada 17 April 2019; 2) gambaran elektabilitas dari kandidat Capres – Cawapres; 3) penilaian masyarakat terhadap penyelenggaraan Pemilu Serentak 2019.

Beberapa temuan yang diperoleh adalah:

1.  Berkaitan dengan Pemilihan Legislatif. Partai politik tertinggi pilihan masyarakat adalah: PDI Perjuangan (24.1%). Pada pilihan berikutnya adalah Partai Gerindra (14.9%), Partai Golkar (11.4%), PKB (8.4%), Partai Nasdem (6.8%), Partai Demokrat (6.6%), PKS (6.4%). Undecided voters sebanyak (8.5%). 





4. Dilihat dari sisi trend, elektabilitas kedua pasangan Capres – Cawapres terlihat ada kenaikan antara 1 sampai 3 persen.



5. Tingkat kemantapan pilihan masyarakat terhadap Capres-Cawapres sudah tergolong tinggi (84,2%). Strong voters di kedua pasangan kandidat sudah sangat tinggi, berada di atas 85 persen.



6.  Dilihat dari segi wilayah, pasangan Joko Widodo – Ma’ruf Amin unggul di: Jawa Barat, Jawa Tengah & DIY, Jawa Timur, Kalimantan, Bali, NTB & NTT, serta Maluku & Papua. Sementara pasangan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno unggul di wilayah Sumatera dan DKI Jakarta & Banten.




7. Prediksi hasil akhir pada 17 April mendatang dilakukan dengan melakukan analisa logit regression dan ekstrapolasi. Dinamisasi masih mungkin terjadi pada sisa waktu 7 hari setelah survei dilakukan. Akan tetapi, apabila tidak terjadi peristiwa besar sampai dengan tanggal 17, pasangan nomor urut 01 Joko Widodo – Ma’ruf Amin akan memenangkan Pemilihan Presiden 2019.


 
8. Masyarakat percaya dan yakin bahwa Pemilu Serentak 2019 mendatang akan berjalan aman, damai dan lancar. 

9. Masyarakat juga meyakini KPU dan Bawaslu sebagai penyelenggara dan pengawas pemilu akan bekerja secara netral dan sesuai undang-undang demi suksesnya Pemilu 2019

 
Survei ini dilakukan untuk membaca preferensi politik masyarakat pada tanggal 5–10 April 2019 melalui wawancara tatap muka secara langsung dengan menggunakan kuesioner terstruktur. Jumlah sampel sebanyak 2000 responden, yang tersebar di 34 Provinsi. Metodologi yang digunakan adalah metode acak bertingkat (multistage random sampling) dengan margin of error ± (2.19%) pada tingkat kepercayaan 95%.

Survei ini memotret:

1) gambaran umum perolehan suara dari partai-partai politik pada 17 April 2019;
2) gambaran elektabilitas dari kandidat Capres – Cawapres;
3) penilaian masyarakat terhadap penyelenggaraan Pemilu Serentak2019.

Beberapa temuan yang diperoleh adalah:
 


201904_rilis Survei Nasional_April
201904122048_Presentasi Rilis_Fin

Lembaga survei lain seperti Indikator juga merilis kemenangan Joko Widodo di pilpre 17 April 2019.Semakin besar proporsi undecided voters dalam sebuah survei semakin sulit melakukan prediksi. Swing voters yang terlalu banyak juga menyulitkan prediksi karena volatilitas pilihannya memungkinkan survei pra-pemilu tak sepenuhnya mampu merepresentasikan hasil akhir.

Selain ingin mempresentasikan proporsi swing voters dan undecided voters, studi ini juga berusaha memprediksi arah dukungan dua kelompok pemilih ini.
Download Analisa Swing & Undecided Voters disini.
»  Download File

Dan ini hasil rilis yang di keluarkan oleh lembaga survei oleh Populi Center  di link situsnya, survei ini  khsusnya di Provinsi Jawa Barat  pada 12 April 2019 lalu. Survei tentang peta politik Jawa Barat menjelang hari pemungutan suara ini dilakukan di 27 kabupaten/kota pada tanggal 5-9 April 2019. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara tatap muka terhadap 945 responden yang dipilih menggunakan metode acak bertingkat (multistage random sampling) dengan margin of error sebesar +/- 3,1 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

Tujuan survei ini untuk melihat bagaimana pertarungan perebutan suara dari Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandiaga di Jawa Barat yang dikenal sebagai dapil terbesar. Terdapat beberapa temuan menarik;

Pertama, dari segi elektabilitas, pasangan  Jokowi-Ma’ruf unggul dengan perolehan 40,0 persen, sedangkan perolehan Prabowo-Sandiaga sebesar 35,1 persen, pemilih yang memutuskan tidak memilih (golput) sebesar 2,0 persen,  dan yang memilih tidak menjawab sebesar 22,9 persen. Suara Jokowi meningkat jauh dibandingkan perolehan di Pemilu 2014. Salah satu penjelasnya ada pada analisa tabulasi silang (cross tabulation) wilayah.

Kedua, berdasarkan sebaran wilayah, suara pemilih Jokowi mengalami peningkatan. Jika pada pilpress 2014, Jokowi unggul di wilayah Pantura (Kab. Cirebon, Kota Cirebon, Kab. Indramayu, Kab. Subang), maka pada kontestasi kali ini Jokowi unggul di basis wilayah yang memiliki DPT cukup besar seperti; Bandung Raya (Kab. Bandung, Kab. Bandung Barat, Kota Bandung, Kab. Cimahi, dan Kab. Sumedang) dengan persentase 45,1 persen. Sedangkan Prabowo-Sandiaga unggul di wilayah Pemalayon (Kab. Bekasi, Kota Bekasi, Kab. Karawang, Kab. Purwakarta, Kota Depok) dengan 44,4 persen, Priangan Barat (Kota Bogor, Kab. Bogor, Kab. Cianjur, Kota Sukabumi, Kab. Sukabumi) dengan 43,9 persen, dan Priangan Timur (Kab. Ciamis, Kab. Garut, Kab. Pangandaran, Kota Banjar, Kab. Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya) dengan 42 persen.

Ketiga, berdasarkan tabel sebaran pemilih terkait dengan kemantapan pilihan, dari 40,0 persen elektabilitas Jokowi-Ma’ruf, sebesar 48,8 persen dari persentase tersebut telah mantap memilih Jokowi-Ma’ruf, hanya 24,3 persen yang masih mungkin berubah. Artinya separuh lebih pemilih Jokowi-Ma’ruf mayoritas sudah solid untuk mendukung kemenangan di Pilpres 2019. Berbeda dengan pemilih Prabowo-Sandiaga, dari 35,1 persen elektabilitas Prabowo-Sandiaga, sebesar 38,8 persen dari persentase tersebut telah mantap memilih Prabowo-Sandiaga, di sisi lain sebesar 35,7 persen masih mungkin berubah. Artinya, separuh dari pemilih Prabowo-Sandiaga belum solid memilih. Dengan kata lain, Prabowo-Sandiaga berpotensi kehilangan separuh suara dari 38,8 persen elektabilitasnya. Meski demikian, perlu untuk diperhatikan angka 24,9 persen yang masih belum menentukan pilihan.

Keempat, berdasarkan sebaran etnisitas, pemilih etnis Jawa dan Sunda yang merupakan dua etnis terbesar lebih memilih Jokowi-Ma’ruf. Sebesar 55,1 persen pemilih suku Jawa memilih Jokowi-Ma’ruf, sedangkan 30,9 persen memilih Prabowo-Sandiaga. Sebesar 37,1 persen pemilih Sunda memilih Jokowi-Ma’ruf sedangkan 34,8 persen memilih Prabowo-Sandiaga. Pemilih dengan latar belakang suku Betawi (61,1 persen), Melayu (66,7 persen) dan Minang (55,6 persen) paling banyak memilih Prabowo-Sandiaga.

Kelima, pertanyaan terkait dengan ekonomi, ketika responden ditanya terkait dengan penghasilan rumah tangga selama satu tahun terakhir, sebanyak 50,5 persen mengatakan penghasilan rumah tangga meningkat, sebesar 39,2 persen mengatakan penghasilan menurun, dan sebanyak 10,4 persen tidak menjawab pertanyaan.

Keenam, apresiasi kinerja ekonomi berimbas pada elektabilitas. Pada pertanyaan terkait dengan pasangan calon mana yang paling dapat memperjuangkan kesejahteraan masyarakat di Jawa Barat. Masyarakat yang menjawab Jokowi-Ma’ruf sebesar 43,1 persen, Prabowo-Sandiaga sebesar 31,1 persen, dan masyarakat yang tidak menjawab 25,8 persen. Hasil ini menunjukkan bahwa performa dalam bidang ekonomi dan kesejahteraan sosial dari Jokowi dinilai lebih unggul dibandingkan Prabowo.

Ketujuh, pada pertanyaan apakah Anda puas dengan kinerja Ridwan Kamil, sebesar 54,5 persen mengatakan puas, 18,3 persen mengatakan tidak puas, dan sebesar 27,2 persen masyarakat tidak menjawab. Pada pertanyaan tokoh mana yang paling dihormati, Ridwan Kamil mendapatkan persentase tertinggi dengan 30,3 persen. Secara umum, hal ini menunjukkan bahwa meski baru tujuh bulan menjadi Gubernur Jawa Barat, kinerja Ridwan Kamil sangat diapresiasi oleh masyarakat Jawa Barat,

Kedelapan, ketika diberi pertanyaan apakah percaya bahwa KPU RI akan melaksanakan pemilu dengan adil dan profesional, sebesar 78,9 persen menjawab percaya, sebesar 12,3 persen menjawab tidak percaya, dan sebesar 8,7 persen masyarakat tidak menjawab. Hasil ini menunjukkan bahwa masyarakat Jawa Barat tidak terpengaruh berita hoax terkait KPU seperti suara tercoblos atau KPU RI berpihak.

Kesembilan, ketika diberi pertanyaan apakah percaya bahwa Bawaslu RI mengawasi tahapan pemilu dengan adil dan  profesional, sebesar 78,1 persen menjawab percaya, sebesar 11,3 persen tidak percaya, dan sebesar 10,6 persen masyarakat tidak menjawab. Hasil ini menunjukkan bahwa integritas Bawaslu RI sangat dipercaya oleh masyarakat Jawa Barat.

Hasil selengkapnya Klik disini

 (berbagai sumber)
Loading...
loading...