Terpopuler

Back to Top

Video

Tradisi Mandi Safar di Tanjung Jabung Timur dan Perkembanganya

Pasang Iklan Gratis
Pasang Iklan Gratis Di iklan the jambi times http://iklan.thejambitimes.com

Video Jambi Terkini
Lihat Video Berita seputar Jambi
http://tv.thejambitimes.com

Pasang Iklan Disini
Pasang Iklan Disini Hub. 0813 6687 8833
http://www.thejambitimes.com

Tunjukan.com
Portal Berita Tunjukan
http://www.tunjukan.com

Ads by Iklan The Jambi Times
MUARASABAK | Festival mandi safar sebagai salah satu event tahunan yang di selenggarakan oleh pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Mandi safar ini ada di salah satu wilayah di ujung tepatnya di Desa Air Hitam Laut Kecamatan Sadu. Mandi safar yang ada di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Muara Sabak) ini pertama kali digelar pada tahun 1965.

Mandi Safar menurut tradisi masyarakat Tanjung Jabung merupakan tradisi orang tua terdahulu.
Mandi safar tersebut merupakan wujud nyata kita melestarikan tradisi orang tua yang di dalamnya  ada muatan agama.

Hal ini di jelaskan oleh salah satu tokoh agama di Kabupaten Tanjung Jabung Timur yaitu KH. As’ad.

KH. Arsyad  salah satu pendiri dari Pondok pesantren Wali Pettu.
Ketika diwawancarai  secara exlusive oleh wartawan media online The Jambi Times melalui telpon selulernya, Jum'at (09/11/2018) sore.

KH As’ad Arsyad yang juga Ketua MUI Kabupaten Tanjung Jabung Timur menuturkan, "Mandi safar mula-mulanya hanya dilakukan oleh warga dirumah masing-masing.

Sekitar tahun 1971 pada saat itu tidak ada kabupaten Tanjung Jabung Timur atau Tanjung Jabung Barat, yang ada hanya Tanjung Jabung. Dulu dua kabupaten ini menjadi satu dalam hamparan wilayah.

Dengan mulai ramainya masyarakat yang melakukan mandi safar jelang datangnya bulan suci ramadan  bagi umat islam lalu mulai dijadikan satu tujuan dan satu tempat untuk secara bersama-sama mandi safar secara serentak.

Oleh Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Timur dipindahkan ke salah satu lokasi yang namanya pantai Babussalam.

Pantai Babussalam terletak di Desa Air Hitam Laut.
Pada tahun 2001 tradisi mandi safar ini di kembangkan dan diperkenalkan ke semua desa yang ada di kabupaten Tanjung Jabung Timur hingga sampai srkarang ini tradisi mandi safar meluas dan dikenal banyak orang di luar kabupaten tersebut. 

Dan tradisi mandi safar ini menjadi salah satu icon Kabupaten dan menjadi tujuan obyek wisata bagi masyarakat lokal maupun masyarakat diluar Muara Sabak.

Pada tahun 2003 tradisi mandi safar  ditetapkan sebagai event besar tradisional masyarakat oleh Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

"Mandi safar juga sebagai agenda kegiatan provinsi dan nasional walaupun belum begitu
lengkap dalam penataanya", kata ketua MUI ini.

Tahun 2005 tradisi mandi safar tidak di selenggarakan secara resmi oleh pemerintah, barulah pada tahun 2010  hingga sekarang tradisi mandi safar  menjadi agenda tetap pemerintah daerah.
KH As’ad Arsyad menambahkan tahun 2019 nanti ritual mandi safar diupayakan dihadiri  oleh kementerian dan menjadi even nasional.

Rencana pemerintah provinsi dan kabupaten, kedepannya dipantai Babussalam  akan di bangun tempat tinggal untuk para wisata atau (home stay) tempat istirahat para  tamu yang datang ke pantai ini.

"Masalah penataan ini juga  akan diusulkan ke  pemerintah pusat untuk membangun saung  -saung serta conblok agar tertata rapi,’’ ungkap KH.As'ad Arsyad.

Ditulis oleh: Husin Armando