close
Iklan HUT Tanjab Timur ke 20 tahun 2019

Terpopuler

Back to Top
Loading...

Video

Kisah Nabi Ibrahim Menyembeleh Anaknya, Benarkah Begitu?

Pasang Iklan Gratis
Pasang Iklan Gratis Di iklan the jambi times http://iklan.thejambitimes.com

Video Jambi Terkini
Lihat Video Berita seputar Jambi
http://tv.thejambitimes.com

Pasang Iklan Disini
Pasang Iklan Disini Hub. 0813 6687 8833
http://www.thejambitimes.com

Tunjukan.com
Portal Berita Tunjukan
http://www.tunjukan.com

Ads by Iklan The Jambi Times


Ashshoffat S:37 Ayat: 99-113



waqaala innii dzaahibun ilaa rabbii sayahdiini


[37:99] Dan Ibrahim berkata:"Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.

rabbi hab lii mina alshshaalihiina


[37:100] Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.

fabasysyarnaahu bighulaamin haliimin


[37:101] Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.

falammaa balagha ma'ahu alssa'ya qaala yaa bunayya innii araa fii almanaami annii adzbahuka faunzhur maatsaa taraa qaala yaa abati if'al maa tu/maru satajidunii in syaa-a allaahu mina alshshaabiriina


[37:102] Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".

falammaa aslamaa watallahu liljabiini


[37:103] Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ).

wanaadaynaahu an yaa ibraahiimu


[37:104] Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim,


qad shaddaqta alrru/yaa innaa kadzaalika najzii almuhsiniina


[37:105] sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

inna haadzaa lahuwa albalaau almubiinu


[37:106] Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.


wafadaynaahu bidzibhin 'azhiimin


[37:107] Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.


wataraknaa 'alayhi fii al-aakhiriina


[37:108] Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,


salaamun 'alaa ibraahiima


[37:109] (yaitu)"Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim".


kadzaalika najzii almuhsiniina


[37:110] Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.


innahu min 'ibaadinaa almu/miniina


[37:111] Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.


wabasysyarnaahu bi-ishaaqa nabiyyan mina alshshaalihiina


[37:112] Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.


wabaaraknaa 'alayhi wa'alaa ishaaqa wamin dzurriyyatihimaa muhsinun wazhaalimun linafsihi mubiinun


[37:113] Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang Zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.

THE JAMBI TIMES - Dalam perjalanan hidupnya yang cukup panjang dengan Siti Hajar istri Ibrahim belum juga dikarunia seorang anak.

Lalu Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah SWT agar dikarunia seorang anak.lalu Ibrahim berdoa kepada Allah dalam Surat Ash Saffat 99-101:


99. dan Ibrahim berkata:"Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku [1282].

100. Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.

101. Maka Kami beri Dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar[1283].

[1282] Maksudnya: Ibrahim pergi kesuatu negeri untuk dapat menyembah Allah dan berda'wah.

[1283] Yang dimaksud ialah Nabi Ismail a.s.( INI TERJEMAHAN DEPAG)

Lalu Allah mengabulkan doa Nabi Ibrahim,  lahirlah Ismail, anak dari Siti Hajar dan Ishak dari Siti Sarah.

Ketika keduanya besar lalu Ibrahim bermimpi untuk menyembelih kedua anaknya Ismail dan Ishak. Kisah ini dituliskan dalam Surat Ash Saffat Ayat 102 menerangkan:


102. Maka takala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" anaknya menjawab:

 "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatkan termasuk orang-orang yang sabar". (TERJEMAHAN DEPAG)

Dalam hal ini ada kesalahan penafsiran sehingga ayat ini tidak bermakna dan hanya sebatas cerita dongeng. Sehingga tidak bisa menjadi tuntunan bagi kehidupan kita sehari-hari.

Apa yang dicontohkan oleh para Rasul  harusnya menjadi pedoman hidup dan panutan kepada si pembacanya, apalagi yang merasa telah beriman dan meyakini bahwa Al Quran ini turun dari Allah.

Segala yang ada di Al Quran itu adalah petunjuk bagi orang - orang beriman dan  harus patuh dan tunduk kepada isi Al Quran.

Lalu bagaimana harus kita ambil contoh Nabi Ibrahim kalau kita ikuti motong atau menyembeleh anak sendiri.

Sepertinya terjemahan itu tidak masuk akal dan hanya dongeng belaka dan menjadi permasalahan adalah  kata “ARO”(melihat, berpandangan), INNIAZBAHUKA” terbentuk dari kalimat mubin (makna gamlang.yaitu (menyembeleh, memukul, membelah) dan (mendidik) terbentuk dari kalimat mutashabihat (makna sastra) dan“WABASYARNAAHU (kabar gembira)

Di dalam terjemahan yang dikeluarkan oleh DEPAG maupun aliran lainnya menceritakan.” Nabi Ibrahim bermimpi untuk menyembelih anaknya Ismail.lalu Ibrahim berkata kepada anaknya Ismail bahwa saya bapak kamu bermimpi (ARO) untuk menyembelih (AZBAHUKA) kamu.

Lalu Nabi Ismail mengikuti kemauan bapaknya untuk disembelih.

Setelah dilakukan penyembelihan maka tiba - tiba  berubah menjadi seekor kambing”.Inilah cerita yang sudah popular dimasyarakat Islam di Indonesia maupun di dunia.

Dalam terjemahan tersebut kita bisa perhatikan adakah dari tafsir ini mempunyai nilai dan harga dari tafsir tersebut, bisakah dijadikan tuntunan atau contoh untuk kehidupan kita.

Lihat dari sisi ilmu atau dari sisi objektifitasnya bahwa terjemahan tersebut tidak mengandung nilai apa-  apa hanya sebatas crita dongeng.

Segala ibadah yang diperintahkan oleh Allah kepada kita semuanya mempunyai makna, nilai dan harga, seperti perintah sholat mencegah perbuatan keji dan mungkar, perintah shaum agar kita menjadi orang yang sabar menjadi orang mutakin dan lainya.

Tidak ada satupun ibadah yang diperintahkan kepada kita tidak mempunyai makna dan nilai. Andai kata ayat tersebut dijadikan tuntunan, adakah orang yang ingin memcoba mengikuti perintah Ibrahim kepada anaknya itu untuk menyembelih anaknya sendiri.

Kalau iya kenapa tidak diperintahkan memotong anaknya lalu tiba-tiba berubah  dan diganti dengan seekor domba atau yang lainya .

Saya rasa tidak ada satupun manusia untuk mencobanya.berarti penafsiran tersebut lari dari aslinya, sehingga membuat binggung untuk dimengerti.

Pada ayat 102 ini di tekankan pada kata “ARO” yang berarti“melihat, berpandangan”.

Artinya melihat dan berpandagan dengan ilmuNYA Allah yaitu  Al Quran dan Nabi Ibrahim bermimpi untuk menyembelih kedua anaknya.

Bermimpi disini diartikan bukan dari kembang tidur.”Ibrahim tertidur lalu bermimpi, anaknya Ismail akan di sembelih.

Bukan ini makna dari Surat Ashsaffat 102.

Menurut pandangan Al Quran Menurut Sunnah Rasul yaitu:“ARO”(MIMPI) bepandangan dan melihat atau mempunyai gambaran serta konsep kehidupan masa depan dengan ilmu.yang mana pandangan kehidupan itu telah di informasikan oleh Allah kepada Nabi Ibrhim.

Contohnya:

Kita merencanakan pendidikan anak kita kejenjang yang lebih tinggi dan mempunyai nilai dimata masyarakat, maka kita akan merancang masa depannya dengan baik, nah inilah yang disebut MIMPI dalam angan-angan kesadaran hidup bukan mimpi dalam tidur.

Dalam mimpinya Ibrahim MENYEMBELIH “ Inniazbahuka” dari kata “zaba’a” artinya dalam bentuk bahasa gamblang ( MUBIN) adalah MENYEMBELIH, MEMUKUL, MEMBELAH.

Kalau dilihat dari bahasa sastranya (MUTHASABIHAT) artinya: MENDIDIK,  kata “zaba’a dalam ayat ini kita gunakan dengan bahasa sastra yaitu “MENDIDIK".

Jadi Nabi Ibrahim dengan MIMPI atau memimpikan mempunyai gambaran atau pandangan konsep kehidupan dengan ilmu Al Quran untuk mendidik kedua anaknya Ismail dan Ishak untuk menjadi manusia yang beriman kepada Allah. Lalu kedua anaknya itu menjawab dalam ayat ini.”

Pada saat itu namanya bukan Al Quran tetapi Kitab Samawi (Wahyu) yang dianut oleh Nabi Ibrahim.

Artinya: Berkata anaknya kepada bapaknya, lalu mereka menjawab“ Semoga Allah memberi satu kepastian menjadi golongan orang yang tetap  teguh bertahan”

                                     Arti Sabar itu adalah "tetap teguh bertahan"


Dalam ayat ini mempunyai makna dan nilai yang sangat mulia, agar kita mengikuti jalannya Nabi Ibrahim dalam mendidik anaknya untuk menjadi orang yang beriman.

Dikaitkan lagi dengan hadist dijelaskan “ iz’alu buyutikum masjidan wala taz alu kuburan” artinya:

“Jadikanlah rumah kalian itu menjadi pendidikan iman, bukan kuburan yang sepi hampa tanpa mempunyai makna”

Al Quran dalam  hadist ini mempunyai korelasi yang sangat kuat kalau terjemahan DEPAG sama sekali tidak mempunyai korelasi antara Al Quran dan hadist.

Dalam ayat ini kita harus mencontoh perjalanan Nabi Ibrohim, bagaimana mendidik dan mempersiapkan anak-anak kita kedepan agar menjadi manusia yang tangguh dan kuat serta mendidik anaknya menjadi manusia yang hidup dan berpandangan dengan iman kepada Allah SWT.

Mari kita contoh perjalanan hidup Nabi Ibrahim, bagaimana cara mendidik anak-anaknya untuk menjadi seorang yang patuh berbuat menurut Al Quran menurut sunnah Rassul.

Mari kita perkenalkan IMAN kepada anak-anak  kita dirumah seperti hadist yang tertera di atas tadi, maka rumah dijadikan pendidikan IMAN.

Di dalam Surat Al Baqoroh dijelaskan " FUANFUSAKUM WAAHLIKUM NAR" jaga dirimu dan keluarga mu dari peradaban NAR” lalu bagaimana untuk menjaga keluarga kita dari peradaban NAR, maka jawabannya adalah menjaganya dengan iman yang Choir.

Perjalanan mencapai Iman setiap Rasul Allah polanya hampir sama semuanya. Dari Rasul, Ibrahim, Musa, Nuh, Isa dan Muhamad. Semua memenuhi perwujudan SAMI’NA sebagai konsep kehidupan dan ATHO’NA sebagai perwujudannya.

Setelah mimpi dalam kenyataan hidup terbukti, karena Nabi Ibrahim sukses mendidik anaknya pemahami sesuai Al Quran dalam kehidupan sehari-harinya maka sepeti kebiasaan orang Arab saat itu yaitu melakukan atau membuat keramaian seperti selamatan dengan memotong seekor unta, domba atau hewan ternak lainya dan mengundang sanak saudara keluarga kerabat dan tetangga dirumahnya sebagai bukti  tanda kebahagiaan seorang ayah  sebagai seorang Nabi Allah yang sukses dan berhasil mendidik anak-anaknya meraih sesuia keinginan  Allah SWT sesuai ciptaaNya yaitu kitab Samawi atau seperti  Al Quran pada saat sekarang ini.

Kita sebagai orang yang beriman wajib mencoontohkan apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim termasuk Rasulullah  sebagai Nabi Akhir Zaman.(abc)





































Loading...
loading...